Tanker Minyak Jepang Kedua Sukses Melintasi Selat Hormuz, Pasokan Nasional Mulai Mengalir
Baca dalam 60 detik
- Kapal tanker Eneos Endeavour tiba di Jepang dengan membawa 2,15 juta barel minyak mentah, setara konsumsi domestik satu hari, setelah melintasi Selat Hormuz yang diblokade Iran.
- Ini adalah kapal kedua yang berhasil melintasi selat tersebut sejak konflik AS-Israel-Iran, setelah sebelumnya kapal Idemitsu Kosan tiba pekan lalu.
- Tujuh kapal tanker terkait Jepang masih terdampar di Teluk Persia, sementara Jepang terus mendesak Iran menjamin kebebasan navigasi.

Kapal tanker minyak milik perusahaan energi Jepang, Eneos Holdings, berhasil merapat di Terminal Kiire, Prefektur Kagoshima, Jepang bagian barat daya, pada Rabu (4/6) setelah menempuh perjalanan penuh risiko melintasi Selat Hormuz. Kedatangan ini menjadi yang kedua kalinya sejak konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu penutupan efektif jalur strategis tersebut.
Eneos Endeavour, kapal sepanjang 340 meter yang dioperasikan anak usaha Eneos, membawa 2,15 juta barel minyak mentah asal Kuwait dan Uni Emirat Arab. Jumlah itu setara dengan konsumsi minyak harian Jepang. Kapal ini sempat tertahan di Teluk Persia sejak akhir Februari setelah serangan gabungan AS-Israel ke Iran, menurut data pelacakan MarineTraffic. Setelah melalui negosiasi diplomatik, kapal akhirnya diizinkan melintas pada pertengahan Mei tanpa membayar biaya tol, sebagaimana dikonfirmasi Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang.
Pekan lalu, kapal tanker lain yang dioperasikan oleh unit pengilangan Idemitsu Kosan menjadi yang pertama tiba di Jepang sejak perang dimulai, mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah. Dua kedatangan ini memberikan secercah harapan bagi Jepang yang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah. Namun, Asosiasi Perminyakan Jepang mencatat masih ada tujuh kapal tanker terkait Jepang yang terdampar di Teluk Persia, menunggu izin serupa.
Pemerintah Jepang telah secara langsung meminta Tehran untuk menjamin lintas bebas dan aman bagi semua negara di Selat Hormuz. Langkah ini menjadi krusial mengingat sekitar 80 persen minyak mentah Jepang diimpor dari negara-negara Teluk. Jika blokade berlanjut, Jepang terancam menghadapi krisis energi yang dapat mengganggu sektor industri dan transportasi.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat akan kerentanan rantai pasok energi global. Meskipun Indonesia bukan pengimpor minyak sebesar Jepang, ketergantungan pada minyak mentah impor juga cukup signifikan. Lonjakan harga minyak akibat ketegangan di Hormuz dapat berdampak pada subsidi energi dan inflasi di dalam negeri. Pemerintah Indonesia perlu mencermati dinamika ini dan mempercepat diversifikasi sumber energi, termasuk pengembangan energi terbarukan dan peningkatan cadangan strategis.
Para analis memperkirakan bahwa Iran mungkin akan melonggarkan blokade secara bertahap seiring tekanan diplomatik, namun risiko eskalasi tetap tinggi. Jepang, sebagai sekutu dekat AS, berada dalam posisi diplomatik yang rumit. Pertanyaan besarnya: akankah kapal-kapal yang tersisa segera menyusul, atau justru konflik semakin meluas dan mengancam stabilitas pasokan minyak global?



