Konflik Iran Dorong Jutaan Orang ke Jurang Kelaparan, Peringatan PBB
Baca dalam 60 detik
- WFP memperkirakan tambahan 6,1 juta jiwa di Somalia, Afghanistan, dan Sri Lanka terancam kelaparan akibat perang Iran dan lonjakan harga energi.
- Kenaikan harga pangan dan bahan bakar yang dipicu konflik Timur Tengah menimbulkan efek domino pada negara-negara miskin yang sudah rentan.
- Badan pangan PBB mendesak negara donor meningkatkan bantuan, terutama untuk Somalia dan Afghanistan, karena dampak kemanusiaan diprediksi semakin parah.

Perang Iran yang berkepanjangan tidak hanya mengguncang geopolitik kawasan, tetapi juga mendorong jutaan orang di negara-negara rentan ke dalam jurang kelaparan akut. Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan bahwa konflik tersebut telah memicu lonjakan harga pangan dan energi yang menghantam langsung daya beli masyarakat miskin.
Dalam analisis terbaru yang dirilis Kamis lalu, WFP menemukan bahwa tambahan 2,5 juta orang di Somalia, 2,3 juta di Afghanistan, dan 1,3 juta di Sri Lanka kini kesulitan memenuhi kebutuhan pangan dasar. Angka ini melengkapi prediksi WFP pada Maret lalu bahwa 45 juta orang di seluruh dunia bisa jatuh ke dalam kerawanan pangan pada akhir Juni, di atas 318 juta jiwa yang sudah mengalami kondisi serupa.
Pelaksana Tugas Direktur Eksekutif WFP Carl Skau menjelaskan bahwa keterkaitan erat antara harga energi dan pangan menjadi faktor utama. โDi negara-negara termiskin, masyarakat sudah menghabiskan seluruh uang mereka untuk makanan. Ketika harga pangan naik, mereka terpaksa makan lebih sedikit,โ ujarnya kepada wartawan PBB.
Laporan WFP menekankan bahwa krisis Timur Tengah menghasilkan โdampak limpahanโ signifikan, terutama pada harga pangan dan bahan bakar, serta mengganggu rantai perdagangan. Di negara-negara yang sudah rapuh, faktor-faktor ini saling berinteraksi dan dengan cepat menggerus ketahanan pangan serta mata pencaharian. Yang mengkhawatirkan, WFP memperkirakan dampak ini akan semakin intensif dalam beberapa bulan mendatang, bahkan jika konflik di Timur Tengah mereda sekalipun.
Skau juga menyoroti titik-titik panas kerawanan pangan lainnya seperti Sudan, Gaza, Lebanon selatan, Yaman, dan Haiti. Di tengah meningkatnya kebutuhan, WFP justru terpaksa membatasi bantuan untuk jutaan orang akibat pemotongan dana. Ia mendesak negara-negara donor untuk segera meningkatkan kontribusi, khususnya untuk Somalia dan Afghanistan, karena โkonsekuensi kemanusiaan jika tidak bertindak lebih akan sangat besar.โ
Bagi Indonesia, meski tidak secara langsung terdampak konflik, lonjakan harga pangan global tetap menjadi ancaman. Sebagai negara pengimpor gandum dan minyak, fluktuasi harga komoditas akibat perang Iran dapat menekan inflasi pangan dalam negeri. Pemerintah perlu mengantisipasi dengan memperkuat cadangan pangan nasional dan diversifikasi sumber impor, serta mempercepat program ketahanan pangan domestik agar tidak ikut terseret krisis global.
Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah komunitas internasional bergerak cepat mencegah bencana kemanusiaan yang lebih luas, atau akankah krisis pangan ini menjadi warisan kelam konflik yang tak kunjung usai?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5436234/original/022161200_1765166505-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-08T110119.657.jpg)

