Terjepit di Selat Hormuz: 20.000 Pelaut Terjebak di Tengah Perang, Stres dan Kehabisan Air Bersih
Baca dalam 60 detik
- Konflik Iran-AS-Israel telah menjebak 1.600 kapal di Teluk Persia, membuat 20.000 awak kapal tidak bisa keluar dan menghadapi krisis air bersih serta makanan.
- Harga air melonjak hingga 5 kali lipat dari biasanya, sementara pemilik kapal harus membayar jutaan dolar untuk izin melintas atau bernegosiasi langsung dengan Iran.
- Krisis ini berpotensi mengubah peta rantai pasok global dan profesi pelaut, dengan risiko bahwa akses jalur laut akan dijadikan senjata dalam konflik masa depan.

Dua puluh ribu pelaut dari berbagai negara masih terperangkap di dalam atau di dekat Selat Hormuz sejak akhir Februari, akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Mereka tidak hanya terjebak di tengah zona perang dengan rudal dan ranjau, tetapi juga menghadapi krisis air bersih dan makanan yang semakin parah seiring mendekatnya musim panas.
Selat Hormuz, yang sebelumnya menjadi jalur transportasi seperlima minyak dan gas bumi dunia, kini praktis lumpuh. Iran menutup akses satu-satunya jalan keluar dari Teluk Persia itu dan hanya memberikan izin lintas atas persetujuan eksplisit mereka. Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat sekitar 1.600 kapal terjebak di sisi yang salah, tidak bisa bergerak karena ancaman rudal, ranjau, dan blokade.
Kapten Hassan Khan, seorang pelaut Pakistan yang namanya dirahasiakan, menggambarkan suasana mencekam di atas kapalnya. "Laut terlihat tenang, tapi di dalam kapal tidak ada yang tenang. Stres terus menghantui, semua orang kelelahan secara fisik dan mental," ujarnya. Awak kapal berusaha menjalani rutinitas kerja, namun canda tawa telah digantikan oleh keheningan cemas yang hanya terputus oleh dering telepon. Suara sekecil apa pun membuat mereka terlonjak, bahkan saat tidur.
Kapten Shafiqul Islam, yang memimpin kapal Banglar Joyjatra milik Bangladesh bermuatan 37.000 ton pupuk menuju Afrika Selatan, sudah dua kali mencoba kabur. Upaya pertama pada 8 April setelah gencatan senjata diumumkan—ia mengikuti kapal lain yang mendapat izin dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)—namun diperingatkan untuk mundur. Upaya kedua sembilan hari kemudian saat Iran menyatakan selat akan dibuka penuh, namun keputusan itu ditarik setelah Amerika tetap memblokade pelabuhan Iran. Kapalnya sudah berada dalam jarak 30 mil laut dari selat, tapi terpaksa berbalik karena peringatan serangan terus terdengar di radio.
Pasokan air bersih menjadi masalah paling kritis. Rashedul Hasan, kepala teknisi Banglar Joyjatra, mengungkapkan bahwa harga air melonjak drastis. "Kami membeli 180 ton air dua hari lalu. Sebelumnya biayanya antara $1.500 hingga $2.000, sekarang $11.000." Seorang pelaut Korea yang enggan disebut namanya menambahkan bahwa beberapa pemasok makanan dan air memanfaatkan situasi untuk meraih keuntungan berlebihan. Kebutuhan air akan semakin mendesak karena suhu udara di Teluk sudah mencapai 30 derajat Celcius pada Mei dan bisa naik hingga 45 derajat.
Di tengah kesulitan, para pelaut juga hidup dalam ketakutan akan serangan. Islam dan 30 awaknya kehilangan hitungan berapa kali mereka menyaksikan rudal melintas atau puing-puing jatuh di dekat kapal. "Setiap kali serangan berlangsung sepanjang malam, tidak ada yang bisa tidur. Kami menyaksikan kengerian dengan mata kepala sendiri," kata Hasan. IMO mencatat sedikitnya 11 pelaut tewas dan satu orang hilang dalam 39 insiden terverifikasi. Meski gencatan senjata telah meredakan ketegangan, aktivitas militer di selat masih terus berlangsung—drone, jet tempur, kapal perang, dan kapal selam masih kerap terlihat.
Lalu, adakah jalan keluar bagi para pelaut yang terjebak? Beberapa kapal—sekitar 750 sejak 28 Februari menurut data Kpler—berhasil melewati Selat Hormuz. Jonathan Schroden dari CNA, lembaga riset di Washington DC, mengatakan pemilik kapal itu mengandalkan diplomasi langsung dengan Iran, sebagian besar berasal dari China, India, dan Pakistan. "Mereka juga tampaknya membayar biaya beberapa juta dolar per kapal," tambahnya. Namun, diplomasi tidak selalu berhasil. Bangladesh Shipping Corporation (BSC) awalnya setuju membayar biaya yang diminta Iran, tetapi rencana itu batal setelah Amerika mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap negara mana pun yang melakukannya. "Kami berada dalam krisis ganda sekarang," ujar Komodor Mahmudul Malek, direktur BSC.
Krisis ini juga mengancam masa depan profesi pelaut. Banyak kontrak yang akan berakhir dan rotasi awak kapal sudah sangat terlambat. Perusahaan pelayaran yang merugi besar berharap bisa memangkas biaya, tetapi sulit mencari pengganti. "Krisis ini menunjukkan betapa berbahayanya pekerjaan ini. Banyak pelaut mungkin akan berpikir ulang tentang profesi ini," kata Kamil, pelaut Pakistan. Ia khawatir akses ke jalur air internasional akan dijadikan senjata dalam konflik masa depan. Sajid Masood, juru masak di kapal tanker minyak, hanya punya satu bulan tersisa dalam kontraknya. Ia ingin pulang ke Pakistan dan membawa boneka Barbie untuk putrinya serta pesawat mainan untuk putranya. "Setiap hari keluarga saya bertanya kapan saya pulang, tapi saya tidak punya jawaban," katanya.
Bagi Indonesia, krisis ini menjadi pengingat akan kerentanan jalur laut strategis. Selat Hormuz adalah jalur utama pasokan minyak dan gas, dan gangguan di sana dapat mempengaruhi harga energi global serta biaya logistik. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi dampak tidak langsung, seperti kenaikan biaya pengiriman dan potensi kelangkaan barang impor. Selain itu, nasib ribuan pelaut asal Asia yang terjebak menunjukkan pentingnya perlindungan tenaga kerja maritim di tengah konflik bersenjata. Pertanyaan besarnya: akankah diplomasi dan tekanan internasional cukup untuk membuka kembali Selat Hormuz, atau justru akan muncul pola baru di mana jalur laut dijadikan alat pemerasan politik?



