Peringatan El Nino: Suhu Global Berpotensi Tembus Rekor, Indonesia Waspada Kekeringan
Baca dalam 60 detik
- Badan Meteorologi Dunia (WMO) memproyeksikan fenomena El Nino dengan intensitas sedang hingga kuat yang dapat berlangsung hingga November 2026.
- El Nino tahun ini diprediksi memicu gelombang panas, kekeringan di Indonesia dan Australia, serta banjir di sebagian Amerika Selatan dan Afrika.
- Sekjen PBB menyerukan percepatan transisi energi terbarukan sebagai respons terhadap ancaman iklim yang semakin nyata.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada Selasa (2/6) mengeluarkan peringatan dini akan munculnya fenomena El Nino dengan kekuatan sedang hingga kuat yang diproyeksikan mendorong suhu global ke level tertinggi baru serta meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem dalam beberapa bulan ke depan.
El Nino, yang ditandai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, biasanya berlangsung sembilan hingga dua belas bulan. WMO mencatat bahwa suhu laut yang hangat telah mempercepat perkembangan El Nino, dan memperkirakan suhu di atas rata-rata akan melanda sebagian besar wilayah dunia mulai Juni hingga Agustus. Fenomena ini kemungkinan besar akan bertahan hingga November.
Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menegaskan perlunya persiapan menghadapi potensi El Nino yang kuat. โPeristiwa ini akan memperparah kekeringan dan curah hujan lebat, serta meningkatkan risiko gelombang panas di darat dan laut,โ ujarnya. Saulo juga mengingatkan bahwa El Nino sebelumnya pada 2023โ2024 turut menjadikan 2024 sebagai tahun terpanas dalam catatan sejarah.
Dampak El Nino tidak merata di seluruh dunia. WMO menyebutkan bahwa pola cuaca ini berpotensi membawa curah hujan berlebih di Amerika Selatan bagian selatan, Amerika Serikat bagian selatan, sebagian Tanduk Afrika, dan Asia Tengah. Sebaliknya, kekeringan diperkirakan melanda Australia, Amerika Tengah, Indonesia, dan beberapa wilayah Asia Selatan. Selain itu, El Nino juga dapat memicu badai di Pasifik tengah dan timur.
Bagi Indonesia, peringatan ini menjadi sinyal waspada. Sebagai negara kepulauan yang rentan terhadap perubahan iklim, Indonesia berpotensi mengalami kekeringan berkepanjangan yang mengancam sektor pertanian dan ketersediaan air bersih. Pemerintah dan masyarakat diimbau untuk mempersiapkan langkah mitigasi, seperti optimalisasi sistem irigasi dan pengelolaan cadangan pangan.
Sekretaris Jenderal PBB, Antรณnio Guterres, menyerukan respons global yang serius. โDunia harus memperlakukan ini sebagai peringatan iklim yang mendesak. Kondisi El Nino akan menambah bahan bakar pada api pemanasan global,โ katanya. Guterres mendorong percepatan transisi dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan sebagai langkah fundamental.
Meskipun tidak ada bukti bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi atau intensitas El Nino, WMO menegaskan bahwa perubahan iklim dapat memperburuk dampak yang ditimbulkan, seperti gelombang panas ekstrem dan curah hujan lebat. Pertanyaannya kini: apakah dunia akan bergerak cukup cepat untuk mencegah skenario terburuk?



