FIFA Perkenalkan Teknologi Offside Baru untuk Piala Dunia 2026: Lebih Cepat dan Akurat
Baca dalam 60 detik
- FIFA akan menggunakan teknologi semi-otomatis offside yang diperbarui di Piala Dunia 2026, memungkinkan asisten wasit mengibarkan bendera lebih cepat dengan peringatan audio real-time untuk offside di atas 10 cm.
- Teknologi ini mencakup pemindaian 3D seluruh pemain (1.248 orang) untuk menciptakan avatar digital yang meningkatkan akurasi keputusan offside dan animasi tayangan ulang.
- FIFA juga mengadopsi sistem deteksi bola keluar lapangan dan perluasan rekreasi 3D real-time untuk membantu penilaian 'line-of-sight' offside, mengurangi kontroversi seperti insiden cedera pemain.

FIFA akhirnya mengumumkan langkah konkret untuk meminimalkan kontroversi offside di Piala Dunia 2026 dengan memperkenalkan teknologi semi-otomatis yang lebih canggih. Sistem anyar ini dirancang untuk mempercepat pengambilan keputusan dan mengurangi praktik 'delayed flag' yang kerap memicu frustrasi pemain, pelatih, dan suporter.
Dalam sistem baru, asisten wasit akan menerima peringatan audio secara real-time jika seorang pemain berada dalam posisi offside lebih dari 10 sentimeter. Angka ini merupakan peningkatan signifikan dari versi sebelumnya yang diuji di Piala Dunia Antarklub dan Piala Interkontinental, di mana ambang batasnya mencapai 50 sentimeter. Meski demikian, FIFA menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan wasit, yang dapat mengabaikan peringatan jika mencurigai adanya kegagalan teknis.
FIFA berharap teknologi ini tidak hanya mempercepat permainan, tetapi juga mengurangi risiko cedera akibat serangan balik yang sia-sia. Insiden yang menimpa penyerang Nottingham Forest, Taiwo Awoniyi, pada Mei 2025 menjadi salah satu pendorong utama. Saat itu, Awoniyi harus dirawat dalam kondisi koma akibat benturan dengan tiang gawang setelah asisten wasit menunda pengibaran bendera offside. Kasus ini menyoroti urgensi sistem yang lebih responsif.
Untuk mendukung akurasi, FIFA akan memindai seluruh 1.248 pemain yang berlaga di Piala Dunia 2026 menggunakan kamera khusus. Proses pemindaian hanya memakan waktu satu detik per pemain dan dilakukan saat sesi foto resmi. Hasilnya, setiap pemain akan memiliki avatar 3D berbasis kecerdasan buatan yang dapat digunakan untuk membuat animasi offside yang lebih jelas dan realistis. Animasi ini akan ditampilkan dalam siaran televisi dan layar stadion, memberikan transparansi lebih kepada penonton.
Selain offside, FIFA juga menyetujui penggunaan teknologi untuk menentukan apakah bola telah keluar lapangan sebelum gol tercipta. Sistem ini akan menghasilkan animasi 3D serupa dengan teknologi garis gawang, yang mampu menunjukkan posisi bola secara presisi. Langkah ini diambil setelah kontroversi gol Aston Villa yang dianulir saat melawan Brentford pada Februari lalu, di mana wasit ragu apakah bola sudah melewati garis. Chip di dalam bola juga akan mendeteksi pemain terakhir yang menyentuh bola, membantu VAR memeriksa keputusan tendangan sudut.
FIFA juga memperluas fitur 'Real-time 3D Recreation' untuk mempercepat penilaian offside 'line-of-sight', yaitu situasi di mana pandangan kiper terhalang. Dua umpan virtual yang mereplikasi sudut pandang kedua kiper akan tersedia bagi VAR dan pemirsa televisi. Langkah ini diharapkan mengurangi perdebatan soal apakah seorang pemain mengganggu kiper tanpa menyentuh bola, yang selama ini menjadi ranah subjektif.
Bagi Indonesia, yang tengah giat mengembangkan sepak bola nasional, terobosan ini menjadi pelajaran berharga. PSSI dapat mempertimbangkan adopsi teknologi serupa di Liga 1 untuk meningkatkan kualitas wasit dan mengurangi kontroversi. Meski biaya implementasi masih tinggi, investasi pada sistem semi-otomatis offside dapat menjadi langkah strategis jangka panjang. Pertanyaannya, seberapa cepat federasi sepak bola di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, siap mengikuti jejak FIFA?



