Kembali ke Panggung Dunia: Afrika Selatan Siap Gebrak Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Afrika Selatan lolos ke Piala Dunia 2026 setelah absen 16 tahun, diperkuat skuad muda berbakat dan pelatih yang akan pensiun.
- Pelatih Hugo Broos, 74 tahun, akan memecahkan rekor pelatih tertua di Piala Dunia sebelum dikalahkan rekan-rekannya.
- Laga pembuka melawan tuan rumah Meksiko menjadi ujian mental bagi Bafana Bafana yang rentan saat tertekan.

Untuk pertama kalinya sejak menjadi tuan rumah pada 2010, Afrika Selatan kembali menginjakkan kaki di Piala Dunia. Bafana Bafana, julukan timnas Afrika Selatan, akan memainkan laga pembuka turnamen edisi 2026, sebuah pengulangan skenario 16 tahun lalu yang berakhir dengan kegagalan melaju ke babak gugur. Kini, dengan skuad yang sebagian besar dihuni pemain domestik dan pelatih berusia 74 tahun yang akan pensiun setelah turnamen, harapan baru muncul—meski tantangan berat sudah menanti.
Perjalanan Afrika Selatan menuju Amerika Utara diwarnai kepercayaan diri tinggi setelah sukses melewati babak kualifikasi. Mereka finis di atas Nigeria di grup, meski sempat mendapat pengurangan tiga poin akibat memainkan pemain tidak sah. Namun, kegagalan di Piala Afrika 2023—kalah dari Kamerun di babak 16 besar—menunjukkan kelemahan adaptasi saat rencana utama gagal. Pelatih Hugo Broos, yang akan mundur setelah Piala Dunia, dianggap berhasil membangun mentalitas baru, tetapi kerapuhan saat tertekan masih menjadi momok.
Laga perdana melawan Meksiko, salah satu tuan rumah, akan menjadi ujian sesungguhnya. Meksiko dikenal garang di kandang sendiri, dan bagi Afrika Selatan yang secara historis kesulitan saat keadaan berbalik, tekanan ini bisa menjadi bumerang. Broos sendiri punya kenangan pahit melawan Meksiko: sebagai pemain, ia kalah 1-2 di laga pembuka Piala Dunia 1986. "Kau tak bisa merencanakan hal seperti itu. Ini indah," ujarnya, merujuk pada ironi 40 tahun kemudian.
Di sisi lain, Afrika Selatan memiliki modal fisik yang kuat, terutama di lini tengah dengan etos kerja tinggi. Pertahanan juga lebih solid di bawah Broos. Namun, minimnya pemain yang bermain di luar negeri—kontras dengan era 1990-an—membuat tim kurang pengalaman di level tertinggi. Beberapa pemain kunci patut disorot: gelandang Teboho Mokoena (29) dengan tembakan kerasnya, kiper kapten Ronwen Williams (34) yang menjadi pahlawan adu penalti, serta penyerang Lyle Foster (25) yang diharapkan memimpin lini depan meski performanya di Premier League menurun.
Bagi Indonesia, perjalanan Afrika Selatan bisa menjadi cermin. Timnas Garuda juga berjuang membangun skuad kompetitif dengan basis pemain lokal, dan tantangan mental saat menghadapi tim besar adalah pelajaran berharga. Keberhasilan Broos membangkitkan kepercayaan diri Bafana Bafana menunjukkan bahwa pelatih asing dengan pengalaman bisa menjadi katalis, meski hasil akhir belum tentu instan.
Dengan catatan tiga kali tampil di Piala Dunia tanpa pernah lolos dari grup, Afrika Selatan hanya kalah tiga dari sembilan pertandingan—termasuk kemenangan bersejarah atas Prancis di 2010. Namun, untuk pertama kali menembus babak 16 besar, mereka harus mengatasi mentalitas "mudah menyerah" yang melekat. Bisakah Broos, yang akan pensiun, memberikan kado perpisahan manis? Atau justru sejarah kembali berulang?


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7772446/original/015588000_1780583877-timnas.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8055770/original/088500500_1780899522-ChatGPT_Image_Jun_8__2026__01_15_55_PM.jpg)