Milanisti Bawa Protes ke New York: Spanduk 'Cardinale Out' Siap Hiasi Times Square
Baca dalam 60 detik
- Kelompok suporter AC Milan merencanakan aksi protes di Times Square dan media AS untuk menuntut pengunduran diri pemilik klub, Gerry Cardinale.
- Kegagalan lolos ke Liga Champions dua musim beruntun dan kekosongan manajemen puncak memicu kemarahan fan, yang kini mengincar sorotan publik global jelang Piala Dunia 2026.
- Langkah ini menjadi preseden baru dalam sepak bola Italia, di mana suporter menggunakan pusat keuangan dan media dunia sebagai panggung unjuk rasa.

Suporter AC Milan bersiap membawa aksi unjuk rasa ke jantung kota New York. Rencananya, spanduk bertuliskan 'Save Milan, Cardinale Out' akan dipajang di Times Square dan sejumlah media arus utama Amerika Serikat sebagai bentuk protes terhadap pemilik klub, Gerry Cardinale.
Kekesalan fan Rossoneri mencapai puncak setelah tim gagal lolos ke Liga Champions untuk musim kedua berturut-turut. Situasi diperparah dengan kekosongan jabatan di jajaran manajemen puncak: pelatih kepala, direktur olahraga, direktur teknis, dan CEO semuanya lowong setelah pemecatan massal terhadap Massimiliano Allegri, Igli Tare, Geoffrey Moncada, dan Giorgio Furlani sehari setelah musim 2025-26 berakhir.
Menurut laporan Calciomercato.com, inisiatif ini digagas oleh Presiden Milan Club Valle Telesina yang telah berkoordinasi dengan kelompok suporter terorganisir lainnya, termasuk Curva Sud, AIMC, Old Clan, dan Milan Club New York. Mereka berencana membeli slot iklan di Times Square dan memasang pesan yang sama di New York Times serta jaringan televisi CBS.
Pemilihan lokasi Times Square bukan tanpa alasan. Dengan arus wisatawan global yang akan membludak pada musim panas 2026 akibat Piala Dunia, suporter Milan ingin memastikan pesan mereka didengar oleh publik internasional. Langkah ini juga merupakan bentuk tekanan langsung kepada Cardinale, yang jarang tampil di Italia dan lebih banyak menghabiskan waktu di Amerika Serikat.
Bagi pengamat sepak bola Italia, aksi ini menandai eskalasi baru dalam hubungan suporter dengan pemilik asing. Sebelumnya, protes serupa pernah terjadi di klub-klub Italia, namun belum ada yang membawa isu internal hingga ke panggung global seperti ini. Analis menilai bahwa kegagalan Milan membangun stabilitas manajemen menjadi titik lemah yang dimanfaatkan suporter untuk mendorong perubahan.
Implikasinya bagi klub cukup serius. Di tengah persiapan bursa transfer musim panas, ketidakpastian di kursi pelatih dan direktur olahraga membuat Milan kesulitan menarik pemain bintang. Beberapa target yang sempat dikaitkan mulai menjauh karena tidak ada figur yang bisa menjamin proyek olahraga jangka panjang.
Bagi pembaca di Indonesia, aksi ini mengingatkan pada fenomena serupa di klub-klub besar Eropa yang dimiliki investor asing. Milan, yang memiliki basis penggemar besar di Tanah Air, kerap menjadi sorotan. Jika protes ini berhasil mengguncang posisi Cardinale, bisa menjadi preseden bagi klub-klub lain yang menghadapi ketidakpuasan suporter terhadap pemiliknya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Cardinale merespons dengan langkah konkret, atau justru mengabaikan tekanan dari kelompok suporter yang mulai terorganisir lintas benua? Satu hal yang pasti, panggung dunia sudah siap menyaksikan drama di balik kebangkitan salah satu raksasa Serie A ini.



