Prabowo Panggil Jajaran: Kampus Diminta Jadi Tulang Punggung Program Strategis Nasional
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas dengan sejumlah menteri dan kepala badan untuk menyelaraskan peran perguruan tinggi dalam mendukung target prioritas pemerintah.
- Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyatakan kesiapan kampus menyediakan riset dan data valid, terutama untuk program seperti B60 dan etanol, sesuai arahan Presiden.
- Ratas tidak membahas pendirian Universitas Republik Indonesia, melainkan fokus pada penguatan kontribusi akademik terhadap kebijakan strategis nasional.

Presiden Prabowo Subianto memanggil jajaran menteri dan kepala badan ke Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin untuk merumuskan strategi yang menempatkan perguruan tinggi sebagai motor utama pencapaian target nasional. Rapat terbatas itu menegaskan peran kampus tidak lagi sekadar lembaga pendidikan, melainkan mitra aktif dalam menyokong berbagai program prioritas pemerintah.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, yang tiba pukul 12.50 WIB, mengaku telah menyiapkan data-data riset dari universitas untuk mendukung agenda strategis. โSaya sudah siapkan data-data bagaimana program kampus siap untuk mem-back-up dari segi kajian, dari segi research, karena Bapak Presiden ingin setiap kebijakan memerlukan data yang valid,โ ujarnya menjelaskan. Ia menambahkan bahwa Presiden selalu berpesan agar universitas mem-back-up seluruh program strategis negara.
Kehadiran Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani, serta Kepala BP BUMN sekaligus COO Dony Oskaria, dalam ratas tersebut mengindikasikan sinergi antara dunia akademik dengan sektor industri dan investasi. Pemerintah tampak ingin memastikan riset perguruan tinggi langsung terintegrasi dengan kebutuhan hilirisasi dan program Danantara, badan pengelola investasi yang baru diluncurkan.
Brian Yuliarto membantah bahwa rapat tersebut membahas pendirian Universitas Republik Indonesia (URI), yang sempat menjadi isu publik. โBukan, bukan kayaknya,โ katanya singkat. Ratas kali ini lebih berfokus pada optimalisasi peran universitas yang telah ada dalam ekosistem riset nasional, bukan pada pembentukan institusi baru.
Langkah ini menandai arah baru pemerintahan Prabowo yang menginginkan sinergi erat antara akademisi dan birokrasi. Perguruan tinggi tidak lagi diminta sekadar mengejar publikasi ilmiah, melainkan menjadi mitra aktif dalam memecahkan masalah nyata bangsa, seperti ketahanan energi dan pangan. Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana kesiapan kampus di Indonesia untuk bertransformasi menjadi lokomotif pembangunan yang diharapkan?



