Infantino Balas Kritik Piala Dunia 2026: 'Meditasi, Berdoa, atau Nonton Bola'
Baca dalam 60 detik
- Presiden FIFA Gianni Infantino menanggapi kritik terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026 dengan ajakan introspeksi, sembari membantah tuduhan diskriminasi dan masalah keamanan.
- Sejumlah kontroversi seperti penolakan visa, campur tangan politik AS, dan insiden rasialisme mewarnai turnamen, namun Infantino menyebutnya sebagai 'nol insiden'.
- Bagi Indonesia, pernyataan ini menyoroti pentingnya transparansi FIFA dan dampaknya terhadap kepercayaan publik sepak bola Asia.

Presiden FIFA Gianni Infantino mengeluarkan pernyataan kontroversial dengan menyarankan para pengkritiknya untuk 'bermeditasi, berdoa, atau menonton pertandingan sepak bola' alih-alih menyebarkan kebencian dan rumor palsu terkait kepemimpinannya serta penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Melalui unggahan 15 slide di akun Instagram pribadinya yang kemudian dibagikan ke delapan juta pengikut FIFA, Infantino menegaskan bahwa turnamen tersebut merupakan 'perayaan kemanusiaan terbaik' dan mengklaim 100% keamanan tanpa kekerasan.
Pernyataan ini muncul di tengah gelombang kritik yang menyoroti berbagai insiden selama Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Salah satu sorotan tajam datang dari tim nasional Iran yang mengalami penundaan visa, penolakan masuk staf pendukung, hingga pencabutan alokasi tiket. Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, bahkan menyebut timnya sebagai 'yang paling tertindas' di turnamen tersebut. Infantino, bagaimanapun, memandang partisipasi Iran sebagai keberhasilan diplomasi sepak bola, meskipun realitas di lapangan berkata lain.
Infantino dengan tegas membantah adanya masalah keamanan, mengklaim 'nol insiden, nol kekerasan'. Namun, fakta membuktikan sebaliknya: Argentina terlibat keributan dengan Spanyol usai final, terdapat dugaan pelecehan rasial, dan penangkapan suporter terjadi di beberapa laga, termasuk setelah semifinal Inggris melawan Argentina di Atlanta. Kehadiran petugas Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) di stadion juga menuai kecaman. Lebih kontroversial lagi, keputusan FIFA yang mencabut larangan bermain Folarin Balogun setelah campur tangan Trump mendapat reaksi keras dari UEFA dan Federasi Sepak Bola Norwegia, yang menyebutnya 'melanggar batas merah'.
Terkait intervensi politik, Infantino berkilah bahwa keputusan serupa adalah hal rutin di liga-liga besar dunia. Ia juga menantang kritik dengan mengatakan, 'Aneh bahwa negara-negara yang mempraktikkan hal ini justru yang mengkritik.' Pernyataan ini disinyalir merujuk pada praktik di Eropa dan Amerika. Sementara itu, Komite Olimpiade Internasional (IOC) menolak menyelidiki Infantino atas tuduhan pelanggaran netralitas politik, dengan alasan di luar yurisdiksi etika mereka.
Bagi Indonesia, pernyataan Infantino menjadi pengingat akan pentingnya tata kelola sepak bola yang bersih dan transparan di bawah FIFA. Pasalnya, federasi Asia Tenggara kerap menghadapi masalah serupa, seperti intervensi pemerintah dan diskriminasi. Jika FIFA sendiri tidak konsisten dalam menegakkan aturan, kepercayaan publik terhadap supremasi hukum sepak bola global akan terus terkikis. Apakah ajakan 'meditasi, berdoa, atau nonton bola' ini cukup untuk meredam skeptisisme, atau justru menjadi penanda bahwa FIFA perlu segera mereformasi diri? Pertanyaan itu masih menggantung.



