Lima Cerita Paling Banyak Dibaca di Jepang: dari Atasan Sekolah 'Keterlaluan' hingga PM yang Nyaris Tidak Tidur
Baca dalam 60 detik
- Pasangan internasional di Wakayama sukses membangun kehidupan di desa melalui pertanian dan relawan, mendorong urbanisasi terbalik.
- Sekolah-sekolah Jepang mulai mengkaji ulang peraturan 'hitam' yang sangat ketat, seperti larangan tabir surya dan kewajiban gaya rambut tertentu.
- Tren pernikahan bergeser ke konsultan perjodohan seiring menurunnya popularitas aplikasi kencan, sementara PM Takaichi dikritik karena pamer kurang tidur.

Sepekan terakhir, publik Jepang disuguhkan beragam cerita yang menyentuh sisi sosial, pendidikan, hingga politik. Dalam daftar lima artikel terpopuler The Mainichi antara 18โ26 Juli, satu kisah menyedot perhatian 19,3% pembaca setia: perjuangan pasangan internasional yang memilih hidup di pedesaan Wakayama. Fenomena ini mencerminkan pergeseran pola pikir masyarakat urban yang mulai jenuh dengan hiruk-pikuk kota.
Pasangan suami-istri yang pindah dari Osaka ke Kudoyama ini tidak sekadar tinggal, tetapi aktif bertani, menjadi sukarelawan, dan mendekati tetangga. Mereka berharap kisahnya bisa menginspirasi lebih banyak orang untuk mengikuti jejak mereka. Langkah ini sejalan dengan program revitalisasi desa yang digalakkan pemerintah Jepang.
Di sektor pendidikan, gelombang kritik terhadap peraturan sekolah yang terlalu keras โ dijuluki aturan 'hitam' โ kembali mengemuka. Di Fukuoka dan berbagai daerah, sekolah mulai meninjau ulang larangan penggunaan tabir surya di musim panas serta kewajiban potongan rambut yang 'seperti siswa SMA'. Langkah ini dinilai sebagai respons terhadap tekanan publik yang menuntut lingkungan belajar lebih manusiawi.
Dunia percintaan juga berubah. Lembaga riset kependudukan mencatat bahwa perjodohan yang diatur orang tua perlahan surut setelah perang. Puncaknya, pernikahan karena cinta mengalahkan perjodohan pada akhir 1960-an. Kini, tren berbalik: generasi muda mulai beralih dari aplikasi kencan ke konsultan perjodohan profesional. Fenomena serupa juga terlihat di kota-kota besar Indonesia, di mana jasa mak comblang digital mulai dilirik.
Sementara itu, Perdana Menteri Sanae Takaichi menuai kritik lintas partai setelah mengunggah pernyataan soal kebiasaannya tidur hanya 0โ3 jam per malam untuk menangani beban kerja. Banyak pihak menilai gaya komunikasi semacam itu tidak pantas bagi seorang pemimpin negara. Di Indonesia, budaya lembur dan kurang tidur juga kerap dianggap sebagai simbol dedikasi, meski para ahli kesehatan memperingatkan dampak buruknya terhadap produktivitas jangka panjang.
Terakhir, maraknya pencurian kabel di instalasi tenaga surya mendorong inovasi. Seorang direktur perusahaan di Gifu berhasil melacak kabel curian berkat pemasangan tag pelacak. Sebelumnya, pemulihan barang bukti nyaris mustahil. Indonesia yang tengah gencar membangun PLTS atap bisa belajar dari kasus ini untuk mengamankan aset energi terbarukan.
Dari rangkaian berita ini, tergambar bahwa Jepang โ seperti Indonesia โ sedang bergulat dengan masalah urbanisasi, modernisasi pendidikan, perubahan pola hubungan, budaya kerja, dan keamanan infrastruktur. Pertanyaannya, sejauh mana langkah adaptasi yang diambil bisa menjadi contoh bagi negara lain?



