Nikkei Menguat di Tengah Harapan Reda Ketegangan Timur Tengah, Kekhawatiran Investasi AI Membatasi Kenaikan
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei ditutup naik 0,50% didorong penurunan harga minyak mentah akibat hentinya serangan AS ke Iran.
- Sektor teknologi tertekan oleh kekhawatiran investor atas pengembalian investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI).
- Pasar masih dalam fase penyesuaian menjelang rilis laporan keuangan perusahaan besar Jepang dan AS pekan ini.

Indeks saham utama Tokyo, Nikkei, ditutup menguat pada Senin (27/7) setelah harga minyak mentah mereda menyusul isyarat penghentian serangan militer AS terhadap Iran, meskipun kekhawatiran terhadap efektivitas investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) membatasi laju kenaikan.
Nikkei 225 mencatat kenaikan 320,04 poin (0,50%) ke level 64.931,19, sementara indeks Topix yang lebih luas naik 54,76 poin (1,37%) menjadi 4.066,07. Sektor transportasi udara, jasa, dan karet menjadi pendorong utama di Papan Utama (Prime Market).
Sentimen positif muncul setelah laporan bahwa Presiden AS Donald Trump memerintahkan penghentian serangan besar-besaran terhadap Iran. Imbasnya, dolar AS melemah ke kisaran pertengahan 163 yen di pasar Tokyo. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga turun kembali di bawah 90 dolar per barel, meredakan kekhawatiran inflasi dan mendorong sebagian besar sektor saham naik.
Meski demikian, indeks Nikkei sempat berbalik negatif di tengah sesi karena saham teknologi melemah, mengikuti kinerja buruk saham sejenis di Amerika Serikat pekan lalu. Investor mulai waspada terhadap lonjakan belanja modal AI yang diumumkan dalam laporan laba beberapa perusahaan besar, yang memicu pertanyaan soal tingkat pengembalian investasi (ROI) jangka panjang.
Menurut Toshikazu Horiuchi, strategis ekuitas di IwaiCosmo Securities, posisi pasar belum sepenuhnya selesai disesuaikan setelah Nikkei sempat menembus level 72.000 bulan lalu. Ia menambahkan bahwa ujian terbesar bagi pasar akan datang minggu ini seiring derasnya rilis laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan raksasa di Jepang dan Amerika Serikat.
Konteks Indonesia: Pergerakan bursa Tokyo kerap menjadi acuan bagi pasar saham Asia, termasuk Indonesia. Jika kekhawatiran investasi AI berlanjut dan mendorong aksi jual saham teknologi global, indeks harga saham gabungan (IHSG) bisa ikut tertekan mengingat beberapa emiten teknologi dalam negeri juga bergantung pada aliran modal asing. Di sisi lain, penurunan harga minyak mentah dapat meredakan tekanan inflasi domestik, yang berpotensi mendukung kebijakan suku bunga akomodatif Bank Indonesia.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah laba perusahaan teknologi benar-benar mampu membenarkan belanja AI yang agresif, atau justru mengindikasikan gelembung yang siap pecah. Pekan ini menjadi momen krusial bagi investor global untuk mengukur arah kebijakan ekspansi perusahaan dan dampaknya terhadap valuasi pasar.



