Negosiasi Gaji Jadi Penghalang Terbesar Transfer Nicolò Zaniolo ke Udinese
Baca dalam 60 detik
- Udinese siap mengaktifkan opsi pembelian €9 juta untuk Zaniolo, namun perbedaan gaji yang signifikan menjadi batu sandungan.
- Gaji Zaniolo saat ini di Galatasaray mencapai €3 juta per musim, jauh di atas batas maksimal yang ditawarkan Udinese sebesar €1,7 juta.
- Kesepakatan jangka panjang selama empat tahun dengan kompromi gaji menjadi kunci agar Zaniolo tetap berseragam Udinese musim depan.

Udinese harus menghadapi kenyataan pahit: meski telah menyiapkan dana €9 juta untuk menebus Nicolò Zaniolo dari Galatasaray, negosiasi gaji justru menjadi tembok yang sulit ditembus. Klub asal Friuli itu menginginkan sang gelandang serang bertahan, tetapi angka di atas kertas menunjukkan kesenjangan yang tak mudah dijembatani.
Menurut laporan TuttoMercatoWeb, direktur olahraga Udinese, Gianluca Nani, sudah menyatakan keinginannya mempertahankan Zaniolo bersama Keinan Davis. Keduanya disebut sebagai fondasi tim untuk musim depan. Namun, niat baik itu belum cukup untuk menutup celah finansial yang ada.
Zaniolo saat ini masih terikat kontrak dengan Galatasaray hingga Juni 2027. Gaji besarnya—lebih dari €3 juta per tahun—merupakan warisan dari masa kejayaannya di Roma. Angka itu jelas di luar jangkauan Udinese, yang selama ini dikenal sebagai klub dengan pengeluaran gaji yang terukur. Bahkan, gaji pinjaman musim lalu yang mencapai €1 juta saja sudah dianggap sebagai komitmen besar bagi klub.
Solusi ideal bagi Udinese adalah mencapai kompromi di angka €1,7 juta per musim untuk kontrak berdurasi empat tahun. Angka ini dianggap realistis: memberikan keamanan finansial bagi Zaniolo sekaligus menjadi aset jangka panjang yang terjangkau bagi klub, asalkan performanya tetap konsisten. Jika tidak ada kesepakatan, Zaniolo akan kembali ke Turki, meskipun kedua pihak mengaku ingin menemukan titik temu.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus Zaniolo menjadi contoh klasik dilema klub menengah di Eropa: kemampuan membeli pemain mahal tidak selalu diikuti dengan kemampuan membayar gajinya. Di Liga Indonesia, fenomena serupa kerap terjadi ketika klub-klub besar merekrut pemain bintang dengan biaya transfer tinggi, namun kemudian kesulitan mempertahankan mereka karena struktur gaji yang tidak seimbang. Pelajaran dari Udinese menunjukkan bahwa kesepakatan jangka panjang membutuhkan keseimbangan antara ambisi di atas lapangan dan realitas finansial di belakang meja.
Ke depannya, pertanyaan besarnya adalah: apakah Zaniolo bersedia menurunkan standar gajinya demi stabilitas karier di Serie A, ataukah ia akan memilih kembali ke Galatasaray dengan gaji yang lebih menggiurkan? Keputusan ini tidak hanya menentukan masa depannya, tetapi juga menjadi barometer bagaimana klub-klub Italia menangani negosiasi kontrak di era keterbatasan finansial.



