Keakraban Prabowo-Megawati di Hari Lahir Pancasila, Jokowi Absen Tanpa Undangan
Baca dalam 60 detik
- Prabowo dan Megawati tampak bergandengan tangan usai upacara Hari Lahir Pancasila, menandakan hubungan politik yang hangat.
- Jokowi tidak hadir karena tidak menerima undangan, memicu spekulasi tentang dinamika politik pasca-pemilu.
- Sekjen PDIP berharap pertemuan ini membuka jalan bagi diskusi strategis nasional ke depan.

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri menunjukkan keakraban yang mencolok saat menghadiri upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Jakarta, Senin (1/6). Keduanya meninggalkan lokasi dengan wajah tersenyum dan bergandengan tangan, sebuah momen yang langsung menjadi sorotan publik dan pengamat politik.
Prabowo yang juga Ketua Dewan Pengarah BPIP itu memasuki area upacara bersama Megawati, didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Selain itu, ia juga terlihat berbincang akrab dengan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla serta Wakil Presiden ke-13 Ma'ruf Amin. Percakapan tersebut turut dihadiri Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menyambut positif kehangatan antara kedua tokoh tersebut. Menurutnya, pertemuan itu diharapkan menjadi momentum untuk membahas isu-isu strategis bangsa. "Beliau adalah Presiden Kelima yang memiliki banyak pengalaman dan kedekatan personal dengan Presiden Prabowo, sehingga pertemuan itu diharapkan membahas berbagai hal strategis terkait arah bangsa dan negara ke depan," ujar Hasto di sela peringatan di Halaman Masjid At-Taufiq, Lenteng Agung.
Hasto menambahkan bahwa hubungan Prabowo dan Megawati selama ini didasari komitmen bersama untuk menjaga persatuan nasional dan memperkuat ideologi Pancasila. "PDI Perjuangan menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan Presiden Prabowo kepada Ibu Megawati," katanya, seraya menilai kehangatan itu mencerminkan semangat gotong royong dan persaudaraan kebangsaan.
Di sisi lain, Presiden ketujuh RI Joko Widodo (Jokowi) tidak terlihat dalam upacara tersebut. Ajudannya, AKBP Syarif Muhammad Fitriansyah, mengungkapkan bahwa Jokowi tidak menerima undangan. "Hingga pagi hari ini kami belum menerima undangan untuk Bapak Joko Widodo menghadiri Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila," jelas Syarif dalam keterangan tertulis. Pantauan menunjukkan Jokowi menghabiskan waktu di kediamannya di Solo, melayani warga yang ingin berfoto saat libur panjang Waisak.
Ketidakhadiran Jokowi ini menarik perhatian, mengingat ia adalah presiden yang menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila dan hari libur nasional pada 2016. Saat itu, Jokowi beralasan bahwa Pancasila sebagai ideologi negara layak diperingati secara khusus. "Ini adalah posisi tertinggi di dalam sebuah negara. Sehingga kita putuskan 1 Juni ditetapkan, kemudian diliburkan dan diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila," ujarnya kala itu.
Keakraban Prabowo-Megawati di satu sisi dan absennya Jokowi di sisi lain menimbulkan pertanyaan tentang peta politik nasional ke depan. Apakah momen ini akan memperkuat koalisi antara partai-partai besar, atau justru menandai pergeseran aliansi? Yang jelas, peringatan tahun ini tidak hanya menjadi seremoni kenegaraan, tetapi juga panggung simbolis bagi dinamika kekuasaan di Indonesia.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7734496/original/082984800_1780540375-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7734488/original/044458100_1780540374-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7734490/original/066688800_1780540374-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7687886/original/067643300_1780484838-0L5A9216.jpg)