Menyulap Kenangan Hiroshima Menjadi Peringatan: Kisah Penerus Warisan Bom Atom
Baca dalam 60 detik
- Fumiko Fujii, 70 tahun, menjadi penerus warisan bom atom Hiroshima setelah pensiun sebagai profesor universitas.
- Ia menyampaikan kisah Shingo Naito, seorang hibakusha yang kehilangan sebagian besar keluarganya dalam sekejap.
- Di tengah konflik global yang memanas, pesan Fujii mengajak publik merenungkan dampak perang secara lebih mendalam.

Di sebuah kota kecil di Prefektur Ehime, Jepang, seorang perempuan berusia 70 tahun berdiri di depan sekitar 50 pendengar. Bukan sekadar bercerita, Fumiko Fujii membawa serta luka yang tak pernah sembuh—kenangan seorang penyintas bom atom Hiroshima yang kini ia warisi untuk disampaikan kepada generasi baru.
Fujii adalah bagian dari program "A-bomb legacy successor" yang digagas Pemerintah Kota Hiroshima sejak 2012. Para penerus ini dilatih berbicara di depan umum dan mewarisi memori langsung dari para hibakusha yang jumlahnya terus menyusut. Hingga April 2026, tercatat 264 orang aktif dalam peran ini. Mereka menjadi jembatan antara masa lalu yang kelam dan masa depan yang ingin terus diingatkan akan harga perdamaian.
Sebelum menjadi penerus warisan, Fujii menghabiskan sebagian besar kariernya sebagai ahli gizi di rumah sakit, lalu beralih menjadi profesor di Universitas Hiroshima Shudo. Ia mengaku baru benar-benar memahami kedahsyatan bom atom setelah mengunjungi Museum Perdamaian Hiroshima. "Saya sadar betapa bodohnya saya selama ini," ujarnya. Keputusan untuk menjadi penerus warisan diambil setelah ia pensiun pada 2024.
Kisah yang ia sampaikan berasal dari Shingo Naito, 87 tahun, yang saat bom meledak pada 6 Agustus 1945 sedang berjongkok di halaman rumahnya, berusaha menangkap kepiting. Ia selamat karena ledakan melemparkannya ke dalam tempat perlindungan serangan udara yang dibangun ayahnya. Namun, dari tujuh anggota keluarganya, hanya ia dan ibunya yang bertahan hidup lebih dari tiga minggu. Adik laki-lakinya yang berusia 4 tahun dan adik perempuannya yang berusia 2 tahun tewas tertimpa rumah. Ayahnya yang menderita luka bakar parah, serta dua kakak laki-lakinya yang terpapar radiasi, menyusul dalam waktu singkat. Sang ibu meninggal pada 1953, meninggalkan Naito yang kemudian dibesarkan oleh kerabat.
Dalam ceramah perdananya di kampung halamannya, Uwajima, pada 23 Mei lalu, Fujii menyampaikan detail yang menggetarkan: bagaimana ibu Naito naik ke atap rumah yang runtuh dan menarik puing-puing untuk menyelamatkan anak-anaknya, serta momen ketika ia memegang tangan ayahnya yang terbakar dan kulitnya terkelupas. "Saya masih merasa bersalah dan menyesal hingga hari ini," demikian kenangan yang diwariskan Naito.
Rie Hyodo, 65 tahun, salah satu hadirin, mengaku cerita itu berat namun berterima kasih bisa mendengarnya, "terutama di saat konflik masih berkecamuk di berbagai belahan dunia." Pernyataan Hyodo mencerminkan keresahan global yang juga relevan bagi Indonesia—negara yang tidak asing dengan konflik dan kerentanan terhadap dampak perang. Di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat, pesan Fujii menjadi pengingat bahwa biaya perang tidak pernah abstrak: ia adalah kulit yang terkelupas, rumah yang runtuh, dan anak-anak yang kehilangan masa depan.
Fujii sendiri mengakui keterbatasan individu, tetapi berharap audiensnya mau berpikir selangkah lebih jauh tentang apa yang terjadi ketika perang pecah. Pertanyaan yang ia lontarkan bukan retoris: di era ketika konflik bersenjata masih menjadi alat politik, mampukah kita benar-benar membayangkan harga yang harus dibayar? Atau akankah sejarah terus berulang, karena kita terlalu cepat melupakan?



