John Cusack Banting Setir ke Novel Grafis: Anti-Algoritma dan Bebas Negosiasi
Baca dalam 60 detik
- John Cusack meluncurkan novel grafis perdananya, Momo, di San Diego Comic-Con, menandai langkah barunya di luar layar lebar.
- Aktor 60 tahun itu mengaku bosan dengan campur tangan investor film dan memilih medium yang memberinya kendali penuh atas cerita.
- Momo diklaim berdasarkan kisah nyata dari dokumen yang baru dideklasifikasi, dan kesuksesannya diukur dari satu pembaca yang menikmatinya.

John Cusack memilih jalur independen dengan merilis novel grafis pertamanya, Momo, sebagai bentuk perlawanan terhadap industri film yang sarat negosiasi. Aktor yang jarang tampil di publik itu muncul di San Diego Comic-Con untuk memperkenalkan karya debutnya yang berlatar tahun 1972, sebuah kisah perampokan dan perjalanan jalanan dengan sentuhan alien.
Dalam wawancara dengan Variety, Cusack mengungkapkan bahwa novel grafis selalu dianggapnya sebagai medium yang paling dekat dengan film. "Kamu memilih bidikan, semuanya sinematik. Aku ingin bercerita tanpa harus bernegosiasi soal cerita itu," ujarnya. Baginya, menggalang dana puluhan juta dolar untuk film berarti membuka pintu bagi banyak pihak untuk ikut campur, sesuatu yang ingin ia hindari.
Cusack mengerjakan Momo bersama seniman Ignacio Noรฉ. Ia menekankan bahwa tidak ada satu pun yang menyunting naskah atau gambar yang mereka buat. "Ini benar-benar karya dua orang. Tidak terjadi di zaman sekarang. Ini anti-algoritma, tanpa komite dan tanpa komputer di Seattle yang melakukan polling," kata bintang High Fidelity itu. Ia menyebut karya ini sebagai "pemecah merek" yang tidak mengikuti tren pasar.
"Aku ingin melakukan sesuatu seperti film dari era yang berbeda, dan apa pun yang terjadi, jika seseorang membacanya dan menyukainya, aku hitung itu sebagai kesuksesan."
Fenomena seperti ini mengingatkan pada pergeseran kreatif di industri hiburan global, termasuk di Indonesia. Beberapa sineas Tanah Air mulai beralih ke medium komik atau novel grafis untuk mengekspresikan visi tanpa tekanan pasar. Meskipun skala industri berbeda, semangat kemandirian kreatif yang digaungkan Cusack relevan bagi para kreator lokal yang ingin keluar dari pakem bisnis mainstream.
Apakah langkah Cusack akan menginspirasi lebih banyak aktor Hollywood untuk merambah dunia komik? Atau justru Momo hanya akan menjadi proyek sampingan sesaat? Yang jelas, aktor berusia 60 tahun itu telah membuktikan bahwa kendali artistik masih mungkin diperjuangkan di era algoritma dan komite.



