Teddy Bantah Kritik Dino: Diplomasi Prabowo Hasilkan Investasi Rp2.430 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya membalas kritik Dino Patti Djalal dengan membeberkan capaian konkret kunjungan luar negeri Prabowo, termasuk investasi Rp2.430 triliun.
- Teddy menegaskan biaya perjalanan presiden yang melebihi anggaran ditanggung pribadi Prabowo, dan jumlah rombongan dikurangi hingga 50% dari era sebelumnya.
- Dino sebelumnya meminta Prabowo mengurangi frekuensi lawatan karena dianggap paling sering bepergian di antara pemimpin dunia, dengan satu dari enam hari di luar negeri.

Polemik frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto memanas setelah Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya secara terbuka membantah kritik eks Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal, seraya membeberkan sederet hasil diplomasi yang diklaim bernilai triliunan rupiah.
Dalam unggahan video di akun Instagram Sekretariat Presiden, Senin (1/6), Teddy merespons empat poin utama kritik Dino: biaya perjalanan, jumlah rombongan, penjadwalan, dan frekuensi lawatan. Ia menegaskan bahwa setiap kelebihan biaya yang telah dianggarkan negara sepenuhnya ditanggung pribadi Presiden Prabowo. "Segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo," ujarnya.
Teddy juga mengklaim jumlah rombongan kunjungan luar negeri Prabowo sudah berkurang drastis—hampir 50 persen—dibandingkan periode pemerintahan sebelumnya. "Kalau dulu sekali keluar negeri bisa lebih dari 120 orang, zaman Pak Dino seperti itu. Zaman Pak Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal," tegasnya. Ia menambahkan bahwa Prabowo memimpin di tengah dinamika global yang penuh konflik, sehingga membangun kedekatan personal dengan pemimpin dunia menjadi keniscayaan.
"Kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru minta bantuan. Kita harus panen hubungan yang baik," kata Teddy. Ia menolak anggapan bahwa kunjungan Prabowo hanya bersifat seremonial. Menurutnya, diplomasi selama 1,5 tahun terakhir telah membuahkan hasil konkret, termasuk kelanjutan kerja sama BRICS yang menjaga stabilitas BBM dan pangan saat konflik AS-Israel-Iran, serta tarif 0 persen dari Uni Eropa yang baru terwujud pada 2025.
Lebih lanjut, Teddy menyebutkan capaian lain seperti penguatan alutsista, penyelenggaraan haji, perkampungan haji di Tanah Suci, dan peran aktif membantu Palestina. "Itu adalah hasil konkret nyata 1,5 tahun terakhir. Semua itu hasil diplomasi Presiden Prabowo lewat berbagai cara, baik dipublikasikan maupun tidak," pungkasnya.
Sebelumnya, Dino Patti Djalal dalam unggahan video di Instagram, Sabtu (30/5), menyampaikan sejumlah masukan. Ia mengaku memiliki tanggung jawab moral setelah menerima Bintang Mahaputera dari Prabowo. "Dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri. Satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri," ujar Dino. Ia menyarankan Prabowo mengurangi lawatan dan memanfaatkan diplomasi virtual, karena inti pembahasan bilateral hanya berlangsung satu hingga dua jam, sisanya seremonial.
Dino juga menyoroti besarnya biaya per kunjungan—puluhan hingga ratusan miliar rupiah—mencakup tim pendahulu, pesawat, hotel, logistik, hingga uang harian delegasi. Ia mengaku sulit membayangkan intensitas setinggi itu berlanjut selama 18 bulan ke depan.
Respons Teddy menunjukkan bahwa pemerintah berpegang pada argumen hasil nyata. Namun, kritik Dino mengingatkan bahwa persepsi publik terhadap efisiensi dan urgensi lawatan presiden tetap menjadi catatan. Pertanyaannya, akankah Prabowo menyesuaikan pola diplomasinya di tengah tekanan efisiensi anggaran dan tuntutan transparansi?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7734490/original/066688800_1780540374-3.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5550337/original/052605000_1775653694-IMG_1560.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7760019/original/056591300_1780569430-IMG_2840.jpg)