Hasto: Lagu 'Bung Karno Bapak Marhaenisme' Bukan Sekadar Simbol, Melainkan Pelurusan Sejarah
Baca dalam 60 detik
- PDIP menghidupkan kembali lagu 'Bung Karno Bapak Marhaenisme' dengan aransemen baru untuk meluruskan pemahaman tentang Marhaenisme yang dinilai terdistorsi sejak Orde Baru.
- Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan Marhaenisme bukanlah ideologi komunis, melainkan realitas sosial rakyat kecil yang mandiri namun terpinggirkan.
- Lagu tersebut diyakini relevan untuk menjawab tantangan bangsa, seperti penurunan kualitas pendidikan dan daya saing nasional.

PDIP kembali memperdengarkan lagu 'Bung Karno Bapak Marhaenisme' di berbagai agenda internal partai, sebuah langkah yang oleh Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto disebut sebagai upaya sistematis meluruskan sejarah ideologi bangsa yang sempat terputus pada era Orde Baru.
Menurut Hasto, lagu mars yang diaransemen ulang oleh Muhammad Prananda Prabowo itu bukan sekadar nostalgia politik. Ia menilai pemahaman publik terhadap konsep Marhaenisme telah mengalami distorsi selama puluhan tahun, terutama akibat stigma yang mengaitkannya dengan paham komunis. Padahal, kata Hasto, Marhaenisme lahir dari pengamatan Soekarno terhadap realitas sosial rakyat kecil yang hidup mandiri namun kerap tersisih dari proses pembangunan.
"Selama ini Marhaen dicap komunis, padahal itu adalah realitas sosial yang menjadi latar historis bagi Bung Karno untuk memerdekakan rakyat yang terpinggirkan," ujar Hasto usai memimpin upacara Hari Lahir Pancasila di Jakarta Selatan, Senin (1/6). Ia menambahkan bahwa lagu tersebut menjadi sarana membangkitkan kesadaran kader akan watak sejati Pancasila yang berpihak pada keadilan dan kerakyatan.
Hasto juga menekankan bahwa nilai-nilai dalam lagu tersebut tidak boleh berhenti pada pemutaran semata. Menurutnya, esensi Marhaenisme harus diwujudkan dalam kebijakan negara yang konkret, mulai dari sektor pendidikan hingga ekonomi. Ia menyoroti ketertinggalan Indonesia dibandingkan Singapura dan Malaysia dalam hal kualitas pendidikan, serta menilai pemikiran para pendiri bangsa masih relevan untuk menjawab tantangan tersebut.
"Spirit lagu ini adalah politik yang membebaskan dari kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Kita perlu memperkuat watak sejati politik yang memberi manfaat nyata bagi rakyat," pungkas Hasto. Pernyataan ini sekaligus menegaskan posisi PDIP yang ingin mengembalikan Marhaenisme sebagai ideologi perjuangan yang membumi, bukan sekadar retorika.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana internalisasi nilai Marhaenisme ini akan berdampak pada kebijakan partai, terutama dalam menghadapi kontestasi politik nasional. Apakah lagu ini akan menjadi pengingat ideologis yang konsisten, atau sekadar alat mobilisasi massa?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7742452/original/049047100_1780549569-IMG_1613.jpeg)
