Ancelotti di Ujian Terberat: Hentikan Puasa Gelar Brasil atau Cetak Rekor Buruk
Baca dalam 60 detik
- Carlo Ancelotti menjadi pelatih asing pertama yang memimpin Brasil di Piala Dunia, dengan misi mengakhiri puasa gelar sejak 2002.
- Meski menuai resistensi awal dari legenda seperti Cafu, jajak pendapat menunjukkan 41% publik Brasil mendukung pekerjaannya.
- Kunci sukses Ancelotti adalah kemampuan adaptasi dan pendekatan humanis, tetapi tantangan taktik 4-2-4 dan memaksimalkan Vinicius Jr serta Raphinha masih belum tuntas.

Kepercayaan diri Carlo Ancelotti diuji: ia harus menjadi orang pertama yang membawa Brasil keluar dari catatan terburuk—enam edisi tanpa gelar Piala Dunia. Pelatih Italia berusia 66 tahun itu resmi menukangi Selecao pada Mei 2025, memecahkan tabu besar dengan menjadi pelatih asing pertama yang memimpin tim nasional Brasil di ajang Piala Dunia.
Ancelotti sadar bahwa ia bukan hanya menghadapi lawan di lapangan, tetapi juga resistensi dari dalam negeri. Legenda seperti Cafu secara terbuka menyatakan lebih memilih pelatih lokal. Dalam sebuah acara khusus pelatih Brasil tahun lalu, ia harus mendengar kritik pedas dari rekan-rekannya, termasuk Emerson Leao, yang menyebut kehadiran pelatih asing sebagai "invasi". Namun, Ancelotti merespons dengan pendekatan khas: ia belajar bahasa Portugis dengan tekun, bahkan mengikuti les empat kali seminggu, termasuk pada hari Sabtu pagi.
"Saya terkejut dengan komitmennya," kata Roberto Piantino, guru bahasa Portugis Ancelotti. "Suatu Jumat malam, saya tanya kapan mau les lagi. Dia jawab: 'Besok.' Padahal itu hari Sabtu. Saya bilang tentu saja. Itu menunjukkan keseriusannya."
Namun, resistensi itu perlahan mereda. Hasil jajak pendapat dari lembaga Quaest menunjukkan 41% responden menyetujui kinerja Ancelotti, sementara 29% menolak. Dukungan itu membuat Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF) memperpanjang kontraknya hingga 2030, bahkan sebelum Piala Dunia dimulai. Menariknya, Ancelotti sempat menunda penandatanganan kontrak selama sebulan karena ia meminta tiga staf CBF yang membantunya beradaptasi juga mendapat perpanjangan kontrak.
"Dia seperti bunglon," ujar Leonardo, legenda Brasil yang pernah bekerja dengan Ancelotti di AC Milan dan Paris Saint-Germain. "Di mana pun ia pergi, ia beradaptasi dengan orang, tim, dan pemain. Ia juara dunia dalam hal itu."
Adaptasi itu terlihat dari pendekatan humanisnya. Gelandang Manchester United, Casemiro, menceritakan momen di babak pertama laga krusial melawan Paraguay pada Juni 2025. Saat ruang ganti riuh dengan diskusi, Ancelotti berkata, "Tunggu, saya mau merokok dulu. Lima menit lagi saya kembali, baru kalian bisa bicara." Setelah itu, semua pemain menurut. "Orang ini berbeda," kata Casemiro.
Di atas kertas, skuad Brasil bertabur bintang: Vinicius Jr, Raphinha, Neymar, Rodrygo. Namun, Ancelotti masih mencari formula tepat. Formasi 4-2-4 yang ia terapkan belum mampu membuat Vinicius dan Raphinha tampil secemerlang di klub masing-masing. Dari tiga laga yang menurunkan keduanya bersamaan, hasil terbaik adalah kemenangan 1-0 atas Paraguay dan kekalahan 2-1 dari Prancis. Cedera Rodrygo dan Estevao Willian membuat tugasnya semakin berat.
"Kami punya dua dari lima pemain terbaik dunia," ujar Ancelotti, merujuk pada Vinicius Jr dan Raphinha. Namun, ia tahu bahwa membuat mereka tampil untuk Selecao sama seperti di klub adalah tantangan terbesar.
Dengan segala keterbatasan—siklus kualifikasi terburuk dalam sejarah, empat pelatih berbeda, dan presiden CBF yang diskors pengadilan—Ancelotti tetap optimistis. Ia pernah menjadi asisten pelatih Italia saat Brasil juara Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Kini, ia kembali ke tempat yang sama, kali ini sebagai nahkoda, dengan harapan mengulang sejarah.
Pertanyaan besarnya: mampukah pendekatan humanis dan taktik berani Ancelotti memutus puasa gelar Brasil, atau justru menambah catatan buruk yang tak pernah terjadi sebelumnya?



