Mantan Menhan Ryamizard Ryacudu Tutup Usia di RSPAD
Baca dalam 60 detik
- Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu meninggal di usia 76 tahun di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, pada Minggu sore.
- Karier militernya mencakup jabatan KSAD dan Pangkostrad, sebelum dipercaya sebagai Menteri Pertahanan era Jokowi (2014-2019).
- Kepergiannya meninggalkan jejak panjang di pertahanan Indonesia, dari operasi militer hingga kebijakan strategis nasional.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6504511/original/082113700_1779361666-menhan-sebut-situasi-panas-laut-china-selatan-sudah-meredup.jpg)
Mantan Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu, mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, pada Minggu (31/5/2026) pukul 14.03 WIB. Sang jenderal bintang empat itu berpulang dalam usia 76 tahun, meninggalkan warisan panjang di dunia militer dan pertahanan tanah air.
Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait. Dalam keterangannya, ia membenarkan bahwa Ryamizard wafat di RSPAD setelah menjalani perawatan intensif. Meski penyebab pasti belum diumumkan secara resmi, kepergian tokoh kelahiran Palembang, 10 April 1950, ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan sejawat, dan institusi TNI.
Ryamizard bukanlah nama asing di panggung pertahanan nasional. Sebelum dipercaya sebagai Menteri Pertahanan pada Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo periode 2014โ2019, ia telah menapaki jenjang karier militer yang gemilang. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Di bawah komandonya, TNI AD menjalani sejumlah transformasi, termasuk modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) dan peningkatan profesionalisme prajurit.
Selama menjabat sebagai Menhan, Ryamizard dikenal dengan pendekatan tegas terhadap isu kedaulatan dan pertahanan wilayah. Ia kerap menyuarakan pentingnya bela negara dan ketahanan nasional di tengah dinamika geopolitik kawasan. Salah satu warisan kebijakannya adalah penguatan industri pertahanan dalam negeri melalui program kemandirian alutsista, yang kemudian menjadi cikal bakal beberapa proyek strategis nasional.
Kepergian Ryamizard juga menjadi pengingat akan peran penting para tokoh militer dalam sejarah transisi demokrasi Indonesia. Di era Reformasi, ia termasuk jenderal yang tetap aktif di panggung politik dan kebijakan, meski tidak pernah mencalonkan diri dalam pemilu. Baginya, pengabdian kepada negara adalah panggilan seumur hidup, bukan sekadar jabatan.
Bagi publik Indonesia, khususnya kalangan militer dan pertahanan, wafatnya Ryamizard menutup satu babak penting. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: bagaimana generasi penerus dapat meneruskan semangat bela negara dan kemandirian pertahanan yang pernah ia perjuangkan? Warisan pemikiran dan kebijakannya akan terus menjadi bahan diskusi di kalangan analis strategis dan pembuat kebijakan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7684313/original/037026700_1780480342-IMG_1064.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7660064/original/061589800_1780453537-IMG_0808.jpeg)
