Kebakaran Gedung Odeon: Korsleting Bukan Penyebab Utama, Investigasi Fokus pada Faktor Lain
Baca dalam 60 detik
- Penyebab kebakaran di bekas bioskop Odeon yang menewaskan satu pekerja asing masih diselidiki, dengan korsleting listrik sudah dikesampingkan.
- Petugas pemadam kebakaran mengerahkan 38 personel dan tujuh mobil pemadam untuk menjinakkan api yang menghanguskan 70% bangunan seluas 1.500 kaki persegi.
- Bangunan bersejarah berusia seabad ini telah berubah fungsi menjadi tempat hiburan malam, namun ikon papan nama Odeon tetap dipertahankan.

Kebakaran hebat yang melanda bekas bioskop Odeon di George Town, Penang, pada Sabtu lalu tidak dipicu oleh korsleting listrik. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Penang, Mohamad Shoki Hamzah, mengungkapkan bahwa tim investigasi kini mengarahkan dugaan pada faktor lain, termasuk kesalahan manusia dan pengaruh eksternal.
Peristiwa yang menewaskan seorang warga Myanmar berusia 50-an itu menyisakan pertanyaan besar. Meski bangunan yang telah beralih fungsi menjadi tempat hiburan malam tersebut tengah dalam proses renovasi, penyebab pasti api masih belum ditemukan. “Kami tidak meyakini korsleting sebagai penyebab. Investigasi masih berlangsung dan beberapa kemungkinan sedang diteliti,” ujar Mohamad Shoki, Senin (1/6).
Petugas telah mengambil sampel dari lokasi untuk uji forensik, dan hasil laboratorium diperkirakan baru keluar dalam 14 hari ke depan. Sementara itu, upaya pemadaman terus dilakukan mengingat kondisi bangunan yang rapuh. Sekitar 70 persen dari dua lantai tempat hiburan seluas 1.500 kaki persegi itu ludes terbakar. Atap dan dinding yang runtuh menyulitkan petugas masuk ke titik-titik api yang masih membara.
Mohamad Shoki menambahkan bahwa dinding berbahan serat (fibre) justru mempercepat perambatan api. “Dinding serat membuat api cepat menyebar dan masih mengeluarkan asap saat petugas masuk untuk pendinginan,” jelasnya. Beruntung, tindakan cepat petugas berhasil mencegah api merambat ke bangunan di sekitarnya.
Gedung Odeon sendiri merupakan ikon bersejarah berusia lebih dari satu abad di Penang. Dahulu, tempat ini menjadi pusat pemutaran film-film Barat dan Asia sebelum tutup lebih dari satu dekade lalu. Setelah berganti kepemilikan beberapa kali, bangunan itu disulap menjadi tempat hiburan malam, meski papan nama bergaya retro bertuliskan “Odeon” tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan visual kota.
Bagi pembaca di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan keselamatan gedung-gedung tua yang dialihfungsikan. Di Tanah Air, banyak bangunan bersejarah serupa yang juga berubah menjadi pusat komersial atau hiburan, namun seringkali mengabaikan standar proteksi kebakaran. Peristiwa di Penang ini bisa menjadi pelajaran bagi pengelola dan pemerintah daerah untuk lebih ketat dalam audit keselamatan, terutama pada properti dengan material mudah terbakar.
Ke depan, hasil investigasi forensik akan menjadi kunci untuk mengungkap misteri di balik kobaran api yang merenggut nyawa. Apakah ada kelalaian dalam proses renovasi? Ataukah faktor eksternal seperti sabotase? Publik menanti jawaban dari laboratorium dalam dua pekan ke depan.



