Artis Mundur Bertubi-tubi, Trump Ambil Alih Panggung Perayaan 250 Tahun AS
Baca dalam 60 detik
- Donald Trump akan menjadi pembuka utama perayaan 250 tahun AS setelah lebih dari separuh artis mundur karena kaitan acara dengan presiden.
- Konser yang semula diisi nama-nama seperti Martina McBride dan Bret Michaels kini hanya menyisakan Vanilla Ice, Milli Vanilli, dan Flo Rida.
- Trump mengusulkan mengganti konser dengan rapat politik dan menyebut artis yang mundur sebagai 'kelas tiga'.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dipastikan menjadi bintang utama pembukaan perayaan 250 tahun kemerdekaan AS setelah gelombang pembatalan dari para musisi yang sebelumnya dijadwalkan tampil. Keputusan ini diambil panitia penyelenggara Freedom 250 setelah lebih dari separuh artis menarik diri begitu mengetahui keterkaitan acara dengan Trump.
Perayaan bertajuk America 250 itu direncanakan berlangsung di National Mall, Washington DC, mulai 25 Juni hingga 10 Juli 2026. Awalnya, panitia mengumumkan deretan pengisi acara seperti Martina McBride, Young MC, C and C Music Factory, Bret Michaels, The Commodores, dan Morris Day. Namun, setelah kabar keterlibatan Trump dan Freedom 250—organisasi yang dibentuk melalui perintah eksekutif untuk mengkoordinasikan perayaan—tersebar, para artis satu per satu mundur.
Menurut laporan The Washington Post, penasihat Freedom 250 Danielle Alvarez mengonfirmasi bahwa Trump akan tampil pada 24 Juni, sehari sebelum jadwal penampilan Martina McBride. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut para artis terkena 'yips'—istilah dalam olahraga untuk kegugupan mendadak—dan menawarkan diri sebagai 'atraksi nomor satu di dunia'. Ia bahkan membandingkan popularitasnya dengan Elvis Presley, mengklaim mampu mengumpulkan penonton lebih banyak tanpa gitar.
Kekosongan panggung membuat hanya tiga nama yang bertahan: Vanilla Ice, Milli Vanilli, dan Flo Rida. Trump pun mengusulkan agar konser dibatalkan total dan diganti dengan rapat politik 'Make America Great Again' untuk merayakan 250 tahun AS. Dalam cuitan terpisah, ia mengecam para artis yang mundur sebagai 'penyanyi bayaran mahal, kelas tiga, yang musiknya membosankan dan hanya bisa mengeluh'. Ia juga menyinggung pengunduran dirinya dari Kennedy Center, yang disebutnya sebagai tempat gagal dan tidak aman.
Bagi Indonesia, dinamika politik AS ini menarik dicermati karena dapat memengaruhi kebijakan luar negeri dan stabilitas ekonomi global. Trump yang kembali menjadi pusat perhatian menjelang pemilu 2024 kerap menggunakan acara besar sebagai panggung kampanye. Jika ia kembali menjabat, pendekatan transaksional dalam hubungan bilateral—termasuk dengan Indonesia—berpotensi menguat. Di sisi lain, pembatalan artis secara massal menunjukkan polarisasi yang masih tajam di masyarakat AS, di mana dukungan atau penolakan terhadap figur publik bisa berdampak langsung pada kesuksesan acara nasional.
Seorang pejabat senior administrasi AS yang tidak disebutkan namanya menggambarkan situasi ini kepada The New York Times sebagai 'kekacauan'. Meski demikian, Trump tetap optimistis dan menyebut penampilannya akan menjadi 'pidato besar yang menyatukan negara'. Pertanyaannya, mampukah seorang presiden yang kontroversial mengisi panggung yang ditinggalkan para seniman, atau justru perayaan 250 tahun AS akan berubah menjadi sekadar rapat politik raksasa?


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2357599/original/084159900_1536809893-20180912-Jokowi-hadiri-peluncuran-Go-Viet-di-Hanoi-POOL-1.jpg)
