Lindungi Satwa Liar di Angkor: Imbauan untuk Warga dan Pelajaran bagi Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Otoritas taman arkeologi Angkor bersama lembaga konservasi mendesak warga menghentikan perburuan dan perangkap satwa liar di kawasan warisan dunia UNESCO.
- Satwa liar berperan kunci dalam regenerasi hutan dan menjadi daya tarik wisata alam, namun praktik ilegal masih terjadi meski patroli rutin dilakukan.
- Kasus Angkor menjadi pengingat bagi Indonesia untuk memperkuat perlindungan satwa di destinasi wisata budaya seperti Candi Borobudur dan Prambanan.

Otoritas pengelola Taman Arkeologi Angkor di Kamboja, bersama lembaga konservasi Cambodia Wildlife Care (CWC), mengimbau warga sekitar untuk ikut menjaga satwa liar di kawasan hutan alami yang masuk dalam daftar warisan dunia UNESCO. Imbauan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa praktik perburuan dan pemasangan jerat masih terjadi, mengancam keseimbangan ekosistem di salah satu destinasi wisata paling ikonik di Asia Tenggara.
Chou Radina, deputi direktur departemen pengelolaan air, kehutanan, dan infrastruktur di APSARA National Authority (ANA), mengungkapkan bahwa meskipun sudah ada kerja sama antara ANA, CWC, Dinas Kehutanan, dan Polisi Perlindungan Warisan untuk memantau dan melindungi kawasan, pelanggaran masih kerap ditemukan. "Wisatawan yang datang ke Angkor tidak hanya mengagumi candi-candi kuno, tetapi juga menghargai keberadaan satwa liar yang mencerminkan kekayaan lingkungan alam," ujarnya.
Nick Marx, ahli dari CWC yang juga menjadi penasihat keanekaragaman hayati bagi ANA, menekankan peran vital satwa liar dalam penyebaran biji dan regenerasi hutan. "Hewan liar membantu menjaga hutan tetap hijau dan rimbun, yang pada gilirannya mendukung keindahan lanskap Angkor," jelas Marx. Ia juga menambahkan bahwa kehadiran satwa liar menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang tertarik pada alam dan biodiversitas.
Marx mengajak seluruh warga Kamboja untuk berpartisipasi dalam upaya perlindungan. "Jangan memberi makan satwa liar dan jangan mengganggu mereka. Biarkan mereka hidup damai di habitat alaminya," imbaunya.
Kasus Angkor memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia, yang memiliki banyak situs warisan budaya dengan ekosistem hutan di sekitarnya, seperti Candi Borobudur dan Prambanan. Di Indonesia, konflik antara konservasi satwa dan aktivitas manusia juga kerap terjadi, misalnya perburuan liar di kawasan Taman Nasional Komodo atau perambahan hutan di sekitar Candi Prambanan. Langkah Kamboja mengintegrasikan perlindungan satwa ke dalam pengelolaan situs warisan bisa menjadi contoh bagi pengelola destinasi serupa di Tanah Air.
Ke depan, tantangan utama adalah memastikan kesadaran masyarakat lokal terus meningkat dan penegakan hukum berjalan efektif. Apakah Indonesia akan mengikuti jejak Kamboja dengan melibatkan komunitas lokal secara lebih aktif dalam menjaga satwa liar di sekitar situs warisan budaya? Jawabannya akan menentukan kelestarian alam dan warisan budaya bagi generasi mendatang.



