Dari Ranjang Rumah Sakit, Korban Selamat Gua Laos Beri Petunjuk Pencarian Dua Rekan yang Hilang
Baca dalam 60 detik
- Lima penambang emas berhasil dievakuasi dari gua semi-terendam di Laos setelah lebih dari seminggu terperangkap, kini membantu tim penyelamat mencari dua rekan yang masih tertahan di lorong lebih dalam.
- Informasi dari para penyintas, termasuk deskripsi lorong sempit dan tergenang air, menjadi kunci penyusunan strategi penyelamatan berisiko tinggi yang melibatkan penyelam asing.
- Dua korban hilang diperkirakan berada di lorong yang sangat sempit dengan visibilitas nol, membuat penyelaman hanya menjadi opsi terakhir setelah upaya pemompaan air terus dilakukan.

Lima pria yang selamat dari perangkap gua semi-terendam di Laos selama lebih dari sepekan kini memberikan informasi krusial dari ranjang rumah sakit mereka untuk membantu tim penyelamat menjangkau dua rekan yang masih hilang di lorong lebih dalam. Tim gabungan, termasuk penyelam gua asing, tengah menyusun rencana pencarian berisiko tinggi berdasarkan pengalaman para penyintas yang sempat menggambarkan situasi genting di dalam gua.
Kelima pria tersebut ditemukan pada Rabu lalu dalam kondisi berdesakan di sebuah lorong sempit sekitar 300 meter dari mulut gua di kawasan pegunungan terpencil Provinsi Xaysomboun, Laos tengah. Mereka adalah bagian dari tujuh penambang emas yang terjebak akibat banjir bandang hampir dua pekan lalu, seperti dilaporkan media setempat. Proses evakuasi berlangsung bertahap: satu orang berhasil dikeluarkan oleh penyelam pada Jumat, sementara empat lainnya berhasil keluar sendiri pada Sabtu setelah tim penyelamat memompa air keluar dari gua dan memberikan pasokan makanan serta obat-obatan.
Momen evakuasi diwarnai haru ketika keluarga dan petugas penyelamat berlari menyambut para korban yang baru keluar dari gua, sebelum mereka dibawa ke tenda medis. Kini, di ruang perawatan rumah sakit, kelima pria tersebut terbaring di ranjang besi sederhana dengan kasur tipis, namun kondisi mereka dilaporkan stabil. "Mereka dalam kondisi baik," ujar penyelam asal Malaysia, Lee Kian Lie, yang bergabung dalam operasi pada Jumat, seperti dikutip AFP.
Para penyintas telah diwawancarai untuk memberikan gambaran mengenai bagian gua yang lebih dalam. Informasi ini dinilai "cukup substansial" oleh tim penyelamat Laos dan digunakan untuk menyusun rencana pencarian dua orang yang tersisa. "Harapannya, misi hari ini akan menemukan kedua korban," tulis kelompok penyelamat di media sosial pada Minggu. Lee menambahkan bahwa empat pria yang keluar pada Sabtu berhasil berjalan sendiri karena permukaan air sudah surut berkat pemompaan.
Salah satu penyintas, Laen, menceritakan keputusasaan yang melanda sebelum tim penyelam tiba. "Kami menghabiskan tiga hari mencari jalan keluar, tetapi tidak bisa. Dan itu sangat sia-sia," katanya dalam wawancara dengan Radio Nasional Laos dari rumah sakit pada Minggu. "Saya bilang, jika tidak ada tim penyelam yang datang membantu, peluang hidup kami nol persen. Kami hanya menunggu mati." Sementara itu, pria yang dievakuasi pada Jumat, Meud, mengungkapkan bahwa dua korban hilang telah memasuki gua beberapa hari lebih awal dan turun jauh lebih dalam dibandingkan kelompoknya.
Pencarian dua korban terakhir pada Minggu difokuskan pada lorong sempit yang tergenang air di luar area tempat kelima penyintas ditemukan. Penyelam asal Jepang, Yoshitaka Isaji, mendeskripsikan lorong tersebut sangat sempit sehingga hampir tidak bisa dilewati tanpa mengubah posisi tubuh. "Bayangkan ruang sesempit laci lemari," tulis Isaji di media sosial, seraya menambahkan bahwa air keruh membuat visibilitas menjadi nol. Tim penyelamat terus memompa air dari gua dan berusaha menghalangi aliran air masuk. "Mengingat risikonya sangat besar, penyelaman hanya akan menjadi pilihan terakhir," tegas Isaji.
Operasi penyelamatan ini mengingatkan pada misi penyelamatan gua Thailand yang menyita perhatian dunia pada 2018, meskipun dengan skala dan tantangan berbeda. Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dalam penanganan bencana di daerah terpencil, terutama yang melibatkan medan ekstrem seperti gua. Pertanyaannya, akankah teknologi pemompaan air dan informasi dari penyintas cukup untuk menjangkau dua korban yang masih hilang sebelum kondisi mereka semakin kritis?



