Final Liga Champions Berujung Rusuh: 219 Luka, 780 Ditangkap di Prancis
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan PSG atas Arsenal di final Liga Champions memicu kerusuhan massal di Prancis, dengan 219 korban luka dan 780 orang ditangkap.
- Pemerintah Prancis mengerahkan 6.000 personel keamanan untuk mengendalikan situasi, namun aksi perusakan dan bentrokan tetap terjadi di pusat kota Paris.
- Insiden ini menjadi pengingat akan risiko kerusuhan sepak bola yang berulang, termasuk di Indonesia, di mana euforia kemenangan kerap berujung pada tindakan anarkis.

Euforia kemenangan Paris Saint-Germain (PSG) atas Arsenal di final Liga Champions berubah menjadi mimpi buruk. Sebanyak 219 orang dilaporkan terluka dalam bentrokan antara suporter dan aparat keamanan yang meletus di sejumlah kota di Prancis, Minggu (11/6) malam waktu setempat. Delapan di antaranya dalam kondisi kritis, sementara 57 polisi turut menjadi korban.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez mengungkapkan bahwa 780 orang telah ditangkap, dengan lebih dari 450 di antaranya masih dalam tahanan. Satu orang ditemukan tewas di jalan lingkar Paris setelah diduga mengalami kecelakaan saat berusaha memblokade jalan. Kerusuhan ini juga mengganggu layanan bus, kereta, dan rel di ibu kota.
Pemerintah Prancis mengerahkan sekitar 6.000 personel polisi untuk mengamankan perayaan kemenangan yang berpusat di Menara Eiffel. Awalnya, suasana di sekitar landmark tersebut tampak meriah dan damai saat parade dimulai pukul 18.00 waktu setempat. Pemain dan staf PSG berkeliling di Champ-de-Mars sebelum menghadiri resepsi bersama Presiden Emmanuel Macron di Istana Elysee.
Namun, ketegangan justru meningkat di kawasan Champs-Élysées sesaat setelah PSG memastikan kemenangan lewat adu penalti. Rekaman video memperlihatkan suporter menyalakan suar, membakar sepeda listrik di jalan, dan memecahkan kaca etalase toko. Polisi melepaskan gas air mata untuk membubarkan massa. Kepolisian Paris mencatat 480 penangkapan, termasuk 82 anak di bawah umur. Jaksa Paris menyebut pelanggaran berkisar dari penyerangan terhadap petugas hingga perusakan properti, pencurian, dan kepemilikan senjata ilegal.
Kematian seorang pemuda berusia 24 tahun di dekat Porte Maillot masih diselidiki. Saksi mata mengatakan korban mengendarai sepeda motor dan menabrak blok beton. Seorang remaja juga dilaporkan dalam kondisi kritis setelah terlibat perkelahian di wilayah lain Paris, meski belum jelas apakah terkait kerusuhan sepak bola.
Nuñez menegaskan bahwa aparat akan bersikap tegas terhadap pelaku kekerasan. "Kami adalah negara besar dalam menjaga ketertiban umum. Kami mengizinkan kebebasan berkumpul, tetapi tidak dengan ekses," ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa sebagian besar perusuh bukanlah suporter PSG, melainkan individu yang sengaja datang untuk menimbulkan kekacauan.
Komentar pedas datang dari pemimpin sayap kanan Marine Le Pen. Melalui akun media sosialnya, ia menulis, "Hanya di Prancis kemenangan klub sepak bola memicu kerusuhan. Hanya di Prancis semua orang merasa terpaksa mengunci diri di rumah pada malam kemenangan untuk menghindari kekerasan."
Kerusuhan serupa juga terjadi saat PSG menjuarai trofi yang sama tahun lalu, yang bahkan menelan korban jiwa. Pola berulang ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas pengamanan event olahraga besar di Prancis. Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya manajemen kerumunan dan pengendalian massa, terutama mengingat tingginya antusiasme masyarakat terhadap sepak bola yang kerap memicu aksi anarkis. Akankah otoritas Prancis mampu meredam potensi kekerasan di masa depan, atau justru akan terjadi lagi siklus serupa?



