Pelatih Interim Italia Silvio Baldini Menangis di Konferensi Pers: Dedikasikan Kemenangan untuk Anjing Kesayangan
Baca dalam 60 detik
- Silvio Baldini, pelatih interim Italia, menggelar konferensi pers tak biasa jelang laga uji coba melawan Luksemburg, dengan menyebut timnas saat ini sebagai representasi generasi multikultural Italia.
- Baldini mengaku tidak memberikan video taktik lawan kepada pemain muda Italia demi mengurangi tekanan, sebuah pendekatan yang kontras dengan pendahulunya.
- Momen emosional terjadi ketika Baldini meneteskan air mata saat mendedikasikan kemenangan untuk anjingnya, mengakhiri sesi wawancara lebih awal.

Silvio Baldini, yang ditunjuk sebagai pelatih interim tim nasional Italia, menggelar konferensi pers yang tidak lazim pada Selasa (14/6) menjelang laga persahabatan melawan Luksemburg. Dalam sesi yang berlangsung di Stade de Luxembourg, pria 57 tahun itu tak hanya berbicara tentang taktik, tetapi juga menyinggung soal integrasi budaya, tekanan bermain, hingga mendedikasikan kemenangan untuk seekor anjing—sebuah pengakuan yang membuatnya menangis dan mengakhiri konferensi lebih awal.
Baldini dipromosikan dari tim U-21 untuk menangani dua laga uji coba, yakni melawan Luksemburg pada Rabu (15/6) dan Yunani pada Minggu (19/6). Penunjukannya bersifat sementara setelah Gennaro Gattuso mengundurkan diri menyusul kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2022. Dalam situasi tersebut, Baldini memanggil sebagian besar pemain muda yang minim caps—sebuah langkah yang ia nilai sebagai investasi jangka panjang.
“Mereka berlatih dengan hati, dengan keinginan untuk merasa menjadi protagonis dan mewakili rakyat Italia. Para pemain ini adalah masa depan sepak bola Italia,” ujar Baldini. Ia menambahkan bahwa para pemain muda itu telah melalui proses pembinaan sejak level U-15. “Kami ingin menunjukkan bahwa mereka telah matang selama proses itu.”
Yang menarik, Baldini mengaku tidak memberikan video analisis permainan Luksemburg kepada anak asuhnya. “Bukan karena tidak menghormati lawan, tetapi saya tidak ingin memberi tekanan berlebih. Saya ingin mereka merasa bebas di lapangan,” katanya. Pendekatan ini kontras dengan pelatih Italia sebelumnya yang kerap menekankan aspek taktik dan hasil.
Baldini juga menyoroti perubahan demografi timnas Italia. Menurutnya, komposisi pemain saat ini mencerminkan peningkatan imigrasi di Italia selama dua dekade terakhir. “Italia adalah negara yang mengalami banyak imigrasi, dan itu tercermin dalam tim. Sangat indah melihat integrasi di sini. Mereka menemukan tempat di mana mereka merasa diterima,” ujarnya. “Kami tidak bisa terus-menerus mengejar sejarah.”
Puncak emosional terjadi saat Baldini ditanya kepada siapa ia akan mendedikasikan kemenangan. Dengan suara bergetar, ia menjawab: “Mungkin terdengar aneh, tetapi itu bukan manusia, melainkan seekor anjing. Saya tahu ini aneh, tetapi saya enam tahun tidak melatih, dan dia tidak pernah melihat saya sebagai seseorang yang harus memberikan hasil. Dia hanya memiliki loyalitas sempurna.” Baldini kemudian mengaku lebih sedih memikirkan anjingnya daripada saat ayahnya meninggal. “Dia anjing gembala Maremma milik putri saya. Maaf, saya harus berhenti, karena ini mulai memalukan,” katanya sambil menangis, lalu meninggalkan ruangan.
Bagi pengamat sepak bola, momen ini menunjukkan sisi humanis Baldini yang jarang terlihat di dunia sepak bola modern yang sarat tekanan. Pertanyaannya, akankah pendekatan bebas tekanan ini mampu membangkitkan kembali semangat Italia yang tengah terpuruk? Atau justru akan menjadi bumerang ketika hasil tidak kunjung membaik?



