Pierre Sage Masuk Radar Liverpool: Pewaris Gaya Gegenpress Klopp?
Baca dalam 60 detik
- Liverpool telah mengadakan pembicaraan dengan pelatih RC Lens, Pierre Sage, sebagai kandidat pengganti Arne Slot yang baru saja dipecat.
- Sage dikenal dengan gaya pressing tinggi mirip Jurgen Klopp, menjadikannya alternatif jika perekrutan Andoni Iraola gagal.
- Statistik Lens menunjukkan efektivitas pressing, dengan 9,50 high turnover per 90 menit, tertinggi kedua di Ligue 1 setelah PSG.

Kepergian Arne Slot dari Liverpool setelah hanya semusim memegang kendali membuka babak baru pencarian manajer di Anfield. Nama Andoni Iraola memang menjadi favorit utama, namun laporan dari Prancis mengungkapkan bahwa manajemen Liverpool telah menjalin komunikasi dengan Pierre Sage, pelatih RC Lens, sejak Januari lalu. Sage, yang mengidamkan melatih Liverpool, dinilai sebagai opsi yang tak kalah menarik untuk mengembalikan identitas sepak bola heavy metal yang sempat hilang.
Slot dipecat setelah musim yang mengecewakan, di mana Liverpool kehilangan ciri khas permainan agresifnya. Kepergian Mohamed Salah dan Andy Robertson pada akhir musim memperkuat kebutuhan akan era baru. Dalam situasi ini, Iraola—yang sukses membawa Bournemouth ke ambang Liga Champions—muncul sebagai kandidat utama. Namun, negosiasi dengan pelatih asal Spanyol itu belum mencapai kata sepakat, membuka peluang bagi Sage untuk mengambil alih kursi panas di Merseyside.
Pierre Sage, 47 tahun, telah menunjukkan kemampuannya di Lens dengan menerapkan formasi 3-4-2-1 yang mengandalkan pressing tinggi. Gaya ini mengingatkan pada filosofi gegenpress yang dipopulerkan Jurgen Klopp. Data Ligue 1 musim ini menempatkan Lens sebagai tim dengan pressing terbaik kedua setelah PSG, dengan rata-rata 9,50 high turnover per 90 menit. Hanya Lille, PSG, dan Monaco yang mencatat pressing sequences lebih banyak, serta ketiganya juga unggul dalam passes per defensive action (PPDA)—metrik yang mengukur seberapa cepat tim merebut bola.
Perbedaan taktis antara Iraola dan Sage cukup jelas. Iraola lebih sering menggunakan empat bek, sementara Sage nyaman dengan tiga bek. Namun, kesamaan mereka terletak pada intensitas pressing yang tinggi—elemen yang diinginkan oleh Salah sebelum hengkang. Dalam pernyataannya, Salah menekankan pentingnya Liverpool kembali menjadi tim yang ditakuti lawan dengan gaya menyerang. Sage, dengan rekam jejaknya di Lens, dinilai mampu menghadirkan kembali identitas tersebut.
Meski demikian, adaptasi dari Ligue 1 ke Premier League bukanlah perkara mudah. Tingkat persaingan dan jadwal padat di Inggris menjadi tantangan tersendiri. Namun, jika Liverpool gagal mengamankan jasa Iraola, Sage muncul sebagai opsi yang paling mendekati profil yang diinginkan. Manajemen Liverpool dikabarkan juga tengah menyiapkan beberapa pembelian pemain depan untuk memperkuat skuat yang akan ditinggalkan Salah dan Robertson.
Langkah Liverpool selanjutnya akan menentukan apakah mereka akan kembali ke akar sepak bola agresif ala Klopp atau justru memilih pendekatan berbeda. Dengan Sage yang sudah menyatakan ketertarikannya, Anfield mungkin akan segera menyambut sosok baru yang siap membawa tim kembali ke jalur perebutan gelar.



