Krisis Sepak Bola Italia: Panggilan Darurat Mancini Bukti Kebuntuan
Baca dalam 60 detik
- Roberto Mancini kembali sebagai pelatih Italia hanya lima hari setelah rencana transformasi skuad diumumkan, menandakan kegagalan regenerasi.
- Menteri Olahraga Andrea Abodi menyebut situasi ini meninggalkan citra buruk, sementara federasi justru sibuk saling menyalahkan.
- Kebuntuan Italia merekrut pelatih top asing menunjukkan keengganan sistem sepak bola setempat berbenah secara fundamental.

Lima hari setelah rencana ambisius Paolo Maldini, Pep Guardiola, dan Andrea Pirlo digadang-gadang sebagai awal baru Timnas Italia, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) justru menarik Roberto Mancini kembali ke bangku pelatih. Langkah darurat ini, menurut pengamat Susy Campanale, menjadi cermin sempurna dari krisis berkepanjangan sepak bola Italia.
Keputusan FIGC memanggil Mancini hanya berselang beberapa hari dari presentasi cetak biru revolusi skuad menunjukkan betapa rapuh fondasi perencanaan jangka panjang di Negeri Pizza. Minister for Sport Andrea Abodi menilai manuver ini meninggalkan ‘kesan buruk’ di mata dunia, sementara Presiden Komite Olimpiade Italia Giovanni Malagò justru sibuk memperdebatkan pihak mana yang paling memalukan. “Selimut malu menyelimuti seluruh institusi,” tulis Campanale dalam kolomnya di Football Italia.
Ironisnya, rencana awal yang melibatkan nama-nama besar seperti Guardiola dan Pirlo adalah upaya FIGC untuk mencari angin segar. Namun, kegagalan memboyong pelatih asing papan atas menunjukkan dua hal: pertama, sepak bola Italia tidak mampu menarik talenta kepelatihan global; kedua, oligarki internal masih enggan berubah. Mancini, yang sebelumnya sukses membawa Italia juara Euro 2020, dipanggil kembali bukan karena taktik brilian, melainkan karena tidak ada opsi lain yang lebih baik.
Konteks Indonesia: Krisis sepak bola Italia bukan sekadar drama Eropa. Bagi penggemar Tanah Air, ketidakmampuan Italia berbenah menjadi pelajaran berharga. Sepak bola Indonesia kerap menghadapi masalah serupa—pergantian pelatih tanpa arah, campur tangan politik, dan kegagalan memprioritaskan pembinaan jangka panjang. Kegagalan FIGC mendatangkan Guardiola atau Pirlo mengingatkan pada kesulitan PSSI mendatangkan pelatih top Eropa. Bila Italia yang kaya tradisi saja terjebak dalam lingkaran keputusan instan, Indonesia harus lebih waspada agar tidak terus-menerus mengulang kesalahan yang sama.
Dalam analisisnya, Campanale menekankan bahwa FIGC sebenarnya memiliki momentum untuk berubah setelah kekalahan mengecewakan dari Swiss dan Jerman. Namun, pilihan kembali ke Mancini justru mengonfirmasi bahwa federasi takut mengambil risiko. “Sepak bola Italia tidak mau berubah atau benar-benar tidak mampu berubah,” tulisnya. Pernyataan itu menggema di tengah publik yang mulai lelah dengan drama administratif.
Ke depan, FIGC harus menghadapi ujian nyata: apakah Mancini mampu membawa Italia bangkit di kualifikasi Piala Dunia 2026, atau sejarah akan kembali berulang dengan skuad yang stagnan. Jika tidak ada reformasi struktural—mulai dari pembinaan pelatih muda hingga transparansi pengelolaan—maka giliran pelatih berikutnya hanya akan menjadi ‘tambal sulam’ lain tanpa solusi fundamental.



