Chrissie Hynde: Saat Ponsel Mengalahkan Pengalaman Langsung di Konser
Baca dalam 60 detik
- Vokalis The Pretenders, Chrissie Hynde, mengkritik kebiasaan penonton yang terus merekam konser dengan ponsel, menganggapnya mengganggu dan mengurangi esensi pertunjukan.
- Hynde mengaku berdiskusi dengan Emmylou Harris soal rasa 'berhak' penonton untuk merekam, meski aturan melarang, dan mempertimbangkan larangan total ponsel seperti Bob Dylan.
- Fenomena ini juga terlihat di Indonesia, di mana konser dan pameran seni sering dipenuhi layar ponsel, memicu perdebatan antara pengalaman autentik dan dokumentasi digital.

Vokalis The Pretenders, Chrissie Hynde, kembali menyuarakan kegelisahannya terhadap budaya ponsel di konser musik. Dalam unggahan Instagram, pelantun "Brass in Pocket" itu mempertanyakan obsesi manusia modern terhadap gawai, terutama saat menikmati pertunjukan langsung. Menurutnya, kebiasaan merekam atau berfoto selama konser tidak hanya mengganggu artis, tetapi juga merusak pengalaman penonton lain.
Hynde, yang kini berusia 74 tahun, mengaku telah mendiskusikan hal ini dengan penyanyi country Emmylou Harris saat makan malam di London. Keduanya sepakat bahwa meskipun banyak tempat telah menerapkan aturan larangan merekam, sebagian penonton tetap merasa "berhak" melakukannya. "Ini mengingatkan saya pada monyet yang ... di depan orang-orang yang berdiri di sekitar kandang mereka," tulis Hynde dengan sindiran tajam. Ia menambahkan bahwa gangguan ponsel di atas panggung ibarat nyamuk yang berdengung di telinga saat hendak tidur.
Kekesalan Hynde bukan tanpa alasan. Ia bahkan mempertimbangkan untuk menerapkan larangan total ponsel di konsernya, meniru kebijakan Bob Dylan yang mewajibkan penonton mengunci gawai dalam kantong khusus. Langkah ini dinilai radikal, namun semakin banyak musisi yang mendukungnya, seperti Adele dan Jack White, yang juga pernah melarang ponsel di pertunjukan mereka.
Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Konser musisi internasional seperti Coldplay atau Ed Sheeran di Jakarta kerang diwarnai hutan layar ponsel. Bahkan, pameran seni seperti Van Gogh Alive atau Immersive Monet pun tak luput dari kebiasaan ini. Pengunjung lebih sibuk mengabadikan momen daripada menikmati karya secara langsung. Hal ini memicu perdebatan di media sosial antara mereka yang menganggap dokumentasi sebagai bentuk apresiasi dan yang menilai sebagai pengalihan perhatian.
Menurut psikolog klinis dari Universitas Indonesia, dr. Andini, perilaku ini terkait dengan fear of missing out (FOMO) dan kebutuhan validasi sosial. "Merekam dan membagikan momen di media sosial menjadi cara untuk menunjukkan eksistensi. Namun, hal ini justru membuat seseorang kehilangan keintiman dengan pengalaman itu sendiri," ujarnya. Di sisi lain, bagi sebagian penonton, ponsel adalah alat untuk mengabadikan kenangan, terutama jika tiket konser mahal dan jarang terjadi.
Hynde sendiri menyayangkan bahwa bahkan di museum, pengunjung lebih memilih memotret lukisan daripada merenungkannya. "Jika Yesus Kristus berjalan masuk ke dalam ruangan, hal pertama yang akan dilakukan orang adalah mengeluarkan ponsel mereka. Adakah yang bisa menjelaskan?" tulisnya dengan nada sinis. Pertanyaan retoris ini menggambarkan kegelisahan banyak seniman terhadap budaya digital yang menggeser pengalaman autentik.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah larangan ponsel akan menjadi norma baru di konser, tetapi juga bagaimana penonton bisa menyeimbangkan antara dokumentasi dan penghayatan. Di Indonesia, di mana penetrasi ponsel pintar mencapai 79% pada 2024, kesadaran akan etika menonton masih perlu terus digaungkan. Mungkin, seperti kata Hynde, sudah saatnya kita meletakkan ponsel dan benar-benar hadir dalam momen.



