Tradwife dan Feminine Energy: Nostalgia Domestik yang Menjerat Ambisi Perempuan
Baca dalam 60 detik
- Tren tradwife dan feminine energy di media sosial meromantisasi peran domestik perempuan sebagai reaksi terhadap budaya kerja modern, namun berpotensi membatasi ambisi.
- Perempuan ambisius kerap mendapat stigma negatif, sementara laki-laki dengan sifat serupa dipuji sebagai visioner, menciptakan standar ganda yang merugikan.
- Di Indonesia, fenomena ini merupakan bentuk neo-ibuisme digital yang mengontrol perempuan melalui algoritma, bukan lagi negara.

Gelombang konten media sosial yang menampilkan perempuan bangun pukul lima pagi, menyiapkan sarapan estetik, dan menyambut suami dengan senyum tenang tengah merebak. Tren yang dikenal sebagai tradwife (istri tradisional), soft girl, dan feminine energy ini menawarkan nostalgia kehidupan rumah tangga ala 1950-an yang tampak menenangkan. Namun di balik visual yang memanjakan mata, tersimpan pesan halus yang justru membatasi ambisi perempuan dan mengembalikan mereka ke peran domestik.
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari kelelahan mental (burnout) yang dialami banyak perempuan akibat tuntutan budaya girlboss dan sistem kerja kapitalistik. Alih-alih mengkritik sistem yang eksploitatif, narasi yang berkembang justru menyalahkan perempuan yang berambisi. Ungkapan seperti “perempuan tidak diciptakan untuk stres bekerja” atau “kembali ke feminine energy” menjadi mantra yang mendorong perempuan untuk mundur dari ruang publik.
Paradoksnya, banyak konten ini justru diproduksi oleh influencer yang sukses memonetisasi kehidupan domestik mereka. Mereka bekerja penuh waktu di depan kamera, memahami algoritma, dan menjadikan rumah tangga sebagai komoditas visual. Ironi ini menunjukkan bahwa tren tersebut bukanlah sekadar pilihan gaya hidup, melainkan sebuah industri yang menguntungkan dengan mengorbankan kebebasan perempuan lain.
Persoalan utama bukan pada pilihan perempuan untuk menjadi ibu rumah tangga—pilihan itu valid. Masalah muncul ketika algoritma media sosial mulai memberi penghargaan pada femininitas tertentu sambil secara halus mendelegitimasi perempuan yang ambisius, asertif, atau berorientasi karier. Dalam konteks ini, estetika tradwife bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan arahan sosial baru yang membatasi ruang gerak perempuan.
Standar ganda terhadap ambisi sangat jelas terlihat. Laki-laki ambisius dipuji sebagai visioner, sementara perempuan dengan sifat serupa dicap egois atau agresif. Fenomena ini dijelaskan melalui konsep double bind: perempuan dituntut menunjukkan kepemimpinan yang tegas, namun juga harus tetap hangat dan tidak intimidatif. Akibatnya, banyak perempuan merasa takut terlihat “terlalu ambisius” karena khawatir dianggap tidak feminin.
Di Indonesia, tren ini memiliki akar historis yang kuat. Pada masa Orde Baru, negara mengukuhkan ideologi “ibuisme” yang menempatkan perempuan sebagai pendamping suami dan pengurus rumah tangga. Kini, kontrol tersebut tidak lagi datang dari negara, melainkan dari algoritma, influencer, dan estetika media sosial. Inilah yang disebut sebagai neo-ibuisme digital: perempuan boleh bekerja dan tampil di publik, namun nilai mereka tetap diukur dari kemampuan memenuhi standar femininitas domestik.
Dampak psikologisnya tidak bisa diabaikan. Perempuan lajang menjadi ragu mengejar posisi strategis karena takut mengintimidasi orang lain. Perempuan menikah sering merasa bersalah ketika mengejar karier karena terus dibandingkan dengan citra domestik ideal yang romantis di media sosial. Ambisi, yang seharusnya menjadi dorongan untuk berkembang, justru dianggap sebagai ancaman.
Pada akhirnya, akar masalah bukan pada pilihan perempuan antara rumah tangga atau karier, melainkan pada sistem sosial yang terus memaksa mereka membuktikan bahwa ambisi tidak menghilangkan nilai kewanitaan. Pertanyaan yang perlu diajukan: sudah saatnya kita menormalisasi hak perempuan untuk memiliki ambisi tanpa rasa bersalah?



