Daisuke Sato Buka Suara: Sanksi FIFA ke Persib Bukan karena Laporan Baru
Baca dalam 60 detik
- Daisuke Sato mengklarifikasi bahwa sanksi larangan transfer FIFA terhadap Persib Bandung merupakan konsekuensi dari putusan hukum yang sudah berkekuatan tetap, bukan laporan baru.
- Persib sempat meminta putusan tidak dipublikasikan dengan menyertakan nama pemain dan klub demi menjaga reputasi, namun ditolak oleh Sato yang mengedepankan transparansi.
- Sengketa berawal dari pemutusan kontrak Sato pada 2023 dan telah melalui berbagai tahap hukum, termasuk CAS yang menguatkan posisi Sato pada Maret 2026.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4371315/original/023919400_1679730830-20230324BL_BRI_Liga_1_2022-2023_Persib_Bandung_vs_Bhayangkara_FC_31.jpg)
Mantan bek Persib Bandung, Daisuke Sato, angkat bicara setelah namanya dikaitkan dengan sanksi larangan mendaftarkan pemain baru yang dijatuhkan FIFA kepada Maung Bandung. Melalui pernyataan di akun Instagram pribadinya, pemain berusia 31 tahun itu menegaskan bahwa hukuman tersebut bukan akibat laporan terbaru dari dirinya, melainkan kegagalan klub dalam mematuhi putusan hukum yang telah final.
Sato menjelaskan bahwa akar persoalan bermula dari sengketa kontrak setelah kerja samanya dengan Persib berakhir pada 2023. Saat itu, Persib melakukan perubahan komposisi pemain asing di tengah musim BRI Liga 1 2023/24, yang berujung pada pemutusan kontrak sepihak. Menurut Sato, ia tidak memiliki pilihan lain selain menempuh jalur hukum untuk melindungi hak-haknya sebagai pemain profesional.
Perkara ini kemudian bergulir ke berbagai lembaga hukum olahraga, termasuk Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Pada Maret 2026, CAS menolak keberatan Persib dan menyatakan bahwa Sato memiliki alasan sah untuk mengakhiri kontraknya. Keputusan itu pun berkekuatan hukum tetap. "Larangan pendaftaran pemain yang saat ini dijatuhkan oleh FIFA bukanlah karena saya baru melaporkan klub sekarang. Sanksi tersebut merupakan konsekuensi dari kegagalan untuk mematuhi putusan akhir dalam batas waktu yang telah ditentukan," ujar Sato.
Sato juga mengungkapkan bahwa pihak Persib sempat meminta agar putusan tersebut tidak dipublikasikan dengan mencantumkan nama pemain dan klub. Alasannya, kekhawatiran terhadap kehormatan dan reputasi. Namun, permintaan itu ditolak oleh kubu Sato. "Kami menolak permintaan tersebut karena kami meyakini bahwa perkara ini seharusnya ditangani secara transparan," tegasnya.
Dalam pernyataannya, Sato membantah anggapan bahwa ia menjadi penyebab langsung sanksi FIFA. Ia menekankan bahwa proses hukum telah berjalan panjang dan Persib memiliki kesempatan untuk mengajukan keberatan. "Setelah seluruh tahapan proses selesai dijalani, keputusan yang dihasilkan menguatkan posisi saya," ungkapnya. Sato juga menegaskan bahwa ia tidak pernah memiliki masalah pribadi dengan Persib, Bobotoh, atau sepak bola Indonesia. "Proses ini tidak pernah bersifat pribadi dan tidak pernah dimaksudkan untuk merugikan klub maupun para pendukungnya," tulisnya.
Klarifikasi ini menjadi penting di tengah hiruk-pikuk pemberitaan yang menyebut Sato sebagai biang keladi sanksi FIFA. Dengan membeberkan kronologi lengkap, ia berharap publik dapat memahami duduk perkara yang sebenarnya. "Saya dengan hormat meminta kepada publik dan para pendukung untuk memahami kronologi lengkap dari permasalahan ini sebelum memberikan penilaian," pintanya.
Ke depan, kasus ini menjadi pengingat bagi klub-klub Indonesia tentang pentingnya kepatuhan terhadap kontrak pemain dan putusan lembaga hukum olahraga. Jika Persib tidak segera memenuhi kewajibannya, sanksi larangan transfer bisa berlangsung lebih lama dan berdampak pada rencana rekrutmen tim. Pertanyaannya, akankah Persib segera menyelesaikan tunggakan atau justru memperpanjang sengketa?



