Lamouchi: Tunisia Ingin Pulang dari Piala Dunia Tanpa Penyesalan
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Sabri Lamouchi membawa Tunisia ke Piala Dunia 2026 dengan misi lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya.
- Tim asal Afrika Utara itu tak kebobolan satu gol pun selama kualifikasi, menunjukkan soliditas pertahanan yang menjadi modal berharga.
- Lamouchi menargetkan setidaknya empat poin di grup berat bersama Belanda, Swedia, dan Jepang untuk merebut tiket ke fase berikutnya.
Sabri Lamouchi, pelatih berkebangsaan Prancis-Tunisia, kembali ke panggung Piala Dunia dengan membawa misi besar: mengantarkan Tunisia menembus babak gugur untuk pertama kalinya dalam sejarah keikutsertaan mereka. Pengalaman pahit di edisi 2014 bersama Pantai Gading menjadi pelajaran berharga yang ingin ia terapkan bersama skuad Elang Carthage di Amerika Utara nanti.
Dua belas tahun silam, Lamouchi merasakan pahitnya tersingkir secara dramatis. Saat menukangi Pantai Gading di Brasil, timnya hanya butuh hasil imbang melawan Yunani di laga pamungkas grup, namun hadiah penalti di menit akhir menghancurkan asa mereka. "Itu sungguh kejam," kenangnya dalam wawancara dengan FIFA. Kini, ia bertekad agar Tunisia tidak mengalami nasib serupa.
Tunisia sendiri memiliki catatan kurang menggembirakan di Piala Dunia. Sejak debut pada 1978, mereka belum pernah sekalipun melaju ke fase gugur. Pada edisi 2018 dan 2022, mereka hanya mampu meraih satu kemenangan dan pulang dengan empat poin โ jumlah yang di bawah format lama belum cukup untuk lolos. Namun, dengan format baru 48 tim di 2026, empat poin bisa menjadi tiket emas.
Lamouchi yang resmi menangani Tunisia pada Januari lalu mewarisi tim yang tampil impresif di kualifikasi. Di bawah pendahulunya, Sami Trabelsi, Tunisia tidak kebobolan satu gol pun sepanjang babak kualifikasi โ sebuah prestasi langka yang hanya ditandingi Pantai Gading. "Itu menunjukkan kami adalah tim yang bertahan dengan baik secara kolektif," ujar Lamouchi. Meski demikian, ia sadar level Piala Dunia jauh lebih tinggi, terutama dengan grup yang berisi Belanda, Swedia, dan Jepang.
Menghadapi lawan-lawan berat, Lamouchi memilih realistis. "Jujur, kami tidak punya peluang memenangi turnamen ini," katanya blak-blakan. Namun, ia menekankan pentingnya bertarung habis-habisan tanpa rasa takut. "Kami harus memastikan ketika pulang โ semoga selambat mungkin โ kami tidak menyesal dan bangga dengan performa yang ditunjukkan." Filosofi ini ia tanamkan kepada para pemain, terutama yang masih muda dan berpotensi besar.
Lamouchi juga menyoroti pentingnya persiapan matang. Ia berencana memadukan pemain berpengalaman dengan darah segar, tanpa mengubah fondasi tim yang sudah solid. Target awalnya jelas: raih poin penuh melawan Swedia di laga pembuka, lalu berjuang melawan Jepang dan Belanda. "Kami harus berjuang untuk setiap poin. Dengan satu atau dua hasil bagus, kepercayaan diri akan melonjak," tambahnya.
Bagi Indonesia, perjalanan Tunisia bisa menjadi inspirasi. Tim-tim dari kawasan yang secara historis kurang diperhitungkan mampu bersaing di panggung terbesar sepak bola. Ketangguhan pertahanan Tunisia membuktikan bahwa organisasi permainan dan disiplin taktik bisa menjadi senjata ampuh melawan tim-tim unggulan. Pelajaran ini relevan bagi sepak bola Indonesia yang tengah membangun fondasi menuju Piala Dunia 2034.
Lamouchi enggan bicara soal warisan. Ia lebih fokus pada momen dan emosi yang akan dirasakan para pemain dan rakyat Tunisia. "Saya ingin mereka merasa telah memberikan segalanya, menikmati pengalaman, dan memberi kebanggaan bagi 12-14 juta warga Tunisia di seluruh dunia," pungkasnya. Pertanyaannya, akankah pendekatan tanpa beban ini membawa Tunisia melampaui batas sejarah mereka?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7615664/original/085033300_1780401639-Gemini_Generated_Image_jnnisojnnisojnni.jpg)
