PSG Ukir Sejarah: Juara Bertahan Liga Champions, Sejajar Legenda Eropa
Baca dalam 60 detik
- Paris Saint-Germain sukses mempertahankan gelar Liga Champions usai menaklukkan Arsenal lewat adu penalti di Budapest.
- Prestasi ini menempatkan PSG sebagai klub kedua di era Champions League yang mampu juara berturut-turut, setelah Real Madrid.
- Di balik kepergian Kylian Mbappe, transformasi tim menjadi kolektif justru membuat PSG semakin sulit dihentikan.

Paris Saint-Germain resmi mengukuhkan diri sebagai salah satu kekuatan terbesar sepak bola Eropa setelah menjadi klub kedua di era Liga Champions yang mampu mempertahankan gelar juara. Dalam partai puncak yang menegangkan di Budapest, PSG menaklukkan Arsenal 4-3 melalui adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 1-1 sepanjang 120 menit.
Keberhasilan ini melanjutkan dominasi PSG yang musim lalu menghancurkan Inter Milan 5-0 di Munich. Dengan torehan tersebut, Les Parisiens menjadi tim pertama sejak Real Madrid (2016–2018) yang sukses back-to-back, sekaligus klub kesepuluh sepanjang 71 tahun sejarah kompetisi yang mampu meraih gelar beruntun.
Pelatih Luis Enrique, yang kini menjadi manajer kelima dengan tiga trofi Liga Champions/European Cup, mengakui perjuangan kali ini terasa lebih berat. "Saya campur aduk: senang, lelah, semuanya. Tapi ini momen terbaik musim ini. Kami masih juara, dua kali berturut-turut, luar biasa," ujarnya usai laga.
Yang menarik, kesuksesan ini justru diraih setelah PSG kehilangan bintang utamanya, Kylian Mbappe, yang hengkang ke Real Madrid pada musim panas 2024. Alih-alih melemah, kepergian Mbappe justru membuat tim lebih seimbang. Musim pertama tanpa Mbappe, PSG mencetak 44 gol lebih banyak dibanding musim terakhirnya. "Luis Enrique lebih suka lima pemain mencetak 10 gol daripada satu pemain mencetak 50 gol. Musim ini PSG punya 20 pencetak gol berbeda. Ini pendekatan kolektif," ujar jurnalis Guillem Balague.
Kolektivitas itu tercermin dari disiplin tim. PSG menjadi tim dengan kartu kuning paling sedikit di liga-liga top Eropa, menandakan kendali emosi dan kerja sama yang solid. "Semua pemain bermain untuk tim, bukan ego masing-masing," tambah Balague.
Bagi publik sepak bola Indonesia, pencapaian PSG menjadi pengingat bahwa kesuksesan jangka panjang tidak selalu bergantung pada satu megabintang. Model PSG—yang berani melepas ikon demi keseimbangan skuad—bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Asia, termasuk di Indonesia, yang kerap mengandalkan pemain asing bintang. Selain itu, dominasi PSG di Ligue 1 dan Eropa menunjukkan pentingnya pembangunan tim berkelanjutan, bukan sekadar belanja pemain mahal.
Luis Enrique, yang awalnya ragu menerima tawaran PSG karena klub dianggap terlalu penuh bintang, akhirnya berhasil mengubah budaya tim. "Pertanyaannya bukan 'bagaimana kami memenangi Liga Champions?', melainkan 'sepak bola seperti apa yang kami inginkan?'. Jawabannya: ofensif, atraktif, dan Luis Enrique mewakili itu," kenang Balague.
Dengan dua gelar beruntun, PSG kini hanya berjarak satu trofi lagi untuk menyamai catatan lima klub yang pernah meraih hat-trick juara Eropa. Namun, rekor Real Madrid—lima gelar beruntun antara 1956 hingga 1960—masih menjadi gunung yang sulit ditaklukkan. Bisakah PSG mempertahankan konsistensi dan menulis babak baru dalam sejarah?



