Polantas Menyapa di Jepara: Kakorlantas Libatkan Ojol dan Difabel dalam Kampanye Keselamatan Lalu Lintas
Baca dalam 60 detik
- Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho meresmikan program Polantas Menyapa di Jepara, menyasar pengemudi ojek online dan komunitas difabel sebagai mitra keselamatan.
- Program ini merupakan tindak lanjut instruksi Kapolri untuk mendekatkan polisi dengan masyarakat, sekaligus mengakomodasi kebutuhan mobilitas penyandang disabilitas.
- Kehadiran negara dalam perlindungan keselamatan lalu lintas diharapkan menjadi model bagi daerah lain dalam pelayanan inklusif.
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Agus Suryonugroho, turun langsung ke Kopinan 24, Jepara, Jawa Tengah, akhir pekan lalu untuk meresmikan program Polantas Menyapa yang melibatkan pengemudi ojek online (ojol) dan komunitas difabel sebagai garda terdepan kampanye keselamatan berlalu lintas. Langkah ini menjadi sinyal baru pendekatan kepolisian yang tidak hanya represif, tetapi juga inklusif dan partisipatif.
Dalam sambutannya, Agus menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan implementasi langsung dari arahan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo agar setiap anggota Polri hadir dan dekat dengan masyarakat. “Kami pastikan jajaran, khususnya di Jawa Tengah, sudah mengimplementasikan bahwa kita harus dekat dengan masyarakat. Layani dengan ikhlas,” ujarnya di hadapan puluhan peserta yang hadir, Sabtu (30/5/2026).
Kehadiran komunitas difabel menjadi sorotan tersendiri. Agus mengapresiasi Kapolres Jepara AKBP Hadi Kristanto dan Dirlantas Polda Jawa Tengah Kombes Pratama yang telah memfasilitasi penyandang disabilitas dalam kegiatan ini. Bahkan, Kakorlantas menyempatkan diri mencoba kendaraan khusus milik komunitas difabel yang dirancang untuk meningkatkan keselamatan dan mobilitas mereka. “Saya titip kawan-kawan ojol termasuk difabel yang sudah difasilitasi. Negara harus hadir melindungi masyarakat, terutama berkaitan dengan keselamatan,” tegasnya.
Bagi masyarakat Indonesia, program ini memiliki arti strategis. Di tengah tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pengemudi ojol dan minimnya fasilitas bagi penyandang disabilitas, pendekatan Polantas Menyapa menjadi angin segar. Tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga sebagai wadah edukasi langsung tentang pentingnya tertib berlalu lintas. “Kami berharap kedekatan ini bisa meningkatkan kesadaran kolektif untuk mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas,” kata Agus.
Ke depan, Korlantas Polri berencana memperluas program serupa ke daerah-daerah lain di Indonesia. Pertanyaan yang muncul: mampukah model partisipatif ini diadopsi secara konsisten di tengah keterbatasan anggaran dan sumber daya? Jika berhasil, Polantas Menyapa bisa menjadi blueprint pelayanan kepolisian yang lebih humanis dan inklusif di masa mendatang.



