Bengkel Hercules di Kertajati: Solusi atau Sekadar Penghias Sepinya Bandara?
Baca dalam 60 detik
- Bandara Kertajati, terbesar kedua di Indonesia, hanya melayani satu penerbangan internasional reguler akibat minimnya konektivitas dan pengembangan kawasan.
- Rencana menjadikannya pusat perawatan pesawat Hercules se-Asia atas tawaran AS berpotensi menguntungkan secara bisnis, namun tidak serta-merta mengatasi akar masalah kesepian bandara.
- Tanpa perbaikan akses intermoda dan pengembangan ekosistem komersial, Kertajati tetap sulit bersaing dengan bandara-bandara utama lain di Indonesia.

Bandara Internasional Kertajati, yang megah dengan luas terminal terbesar kedua di Indonesia, nyatanya hanya mampu menarik satu penerbangan berjadwal internasional—rute Singapura oleh Scoot dua kali seminggu. Angka ini menjadi cermin ironi: infrastruktur kelas dunia namun denyut aktivitasnya nyaris tak terdengar. Pemerintah pun kini mengusung opsi baru: menjadikan bandara di Majalengka itu sebagai bengkel perawatan pesawat Hercules C-130 milik Amerika Serikat untuk kawasan Asia. Namun, benarkah langkah ini cukup untuk membangkitkan bandara yang sejak 2018 lesu?
Usulan dari Negeri Paman Sam itu memang terdengar menggiurkan. Proyek MRO (maintenance, repair, and overhaul) pesawat Hercules se-Asia menjanjikan pendapatan besar dan mengisi ruang kosong di Kertajati. Sebelumnya, pengelola sempat menjajaki kerja sama dengan Garuda Maintenance Facility AeroAsia, serta mengalihkan fokus ke kargo dan penerbangan haji-umrah. Namun, semua upaya itu belum mampu mengubah nasib bandara yang dibangun dengan skema pendanaan swasta ini.
Di balik peluang bisnis, rencana ini membawa dimensi geopolitik yang rumit. Kerja sama militer dengan AS di tengah ketegangan global berpotensi memicu kontroversi, termasuk isu pelanggaran politik bebas aktif Indonesia. Tak heran, hoaks tentang Kertajati sebagai pangkalan militer AS sempat merebak. Pemerintah harus berhati-hati agar keputusan ini tidak menimbulkan friksi dengan negara sahabat atau mengorbankan kedaulatan.
Namun, efek domino dari bengkel Hercules terhadap keramaian terminal penumpang diprediksi kecil. Aktivitas MRO hanya mendatangkan teknisi dan personel militer, bukan gelombang penumpang komersial. Bandara tetap sepi jika tidak ada perbaikan fundamental pada konektivitas dan pengembangan kawasan. Bandara Eindhoven di Belanda menjadi contoh sukses: ia tumbuh pesat berkat integrasi dengan kawasan teknologi dan industri, serta menyumbang laba bersih 25,2 juta euro pada 2025 dari biaya bandara, pusat perbelanjaan, dan parkir. Sementara Maastricht Aachen Airport mengandalkan koneksi logistik Uni Eropa dengan pertumbuhan kargo 40%.
Kertajati sejatinya dirancang sebagai bandara komersial yang terintegrasi dengan Kertajati Aerocity—pusat perkotaan multifungsi. Namun, hingga kini akses intermoda masih menjadi momok. Jalan Tol Cisumdawu memang memangkas waktu tempuh, tetapi integrasi dengan kereta api, pelabuhan, dan kawasan industri nyaris tidak ada. Maskapai pun enggan membuka rute baru karena pasar dianggap belum matang. Padahal, penumpang rela menempuh jarak lebih jauh jika ada penerbangan langsung dengan harga kompetitif ke destinasi yang tidak dilayani bandara lain.
Pemerintah perlu menyadari bahwa bengkel Hercules hanyalah plester luka, bukan obat. Tanpa menggeliatkan aktivitas sipil—baik penumpang maupun kargo—Kertajati akan terus menjadi bandara besar yang sepi. Pertanyaannya, mampukah pemerintah dan pengelola mengubah paradigma dari sekadar proyek infrastruktur menjadi ekosistem yang hidup?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7660833/original/081694800_1780454276-IMG_0797.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7671939/original/086678700_1780466381-1.jpg)