Kementan Rancang Dapur Susu Indonesia untuk Jamin Pasokan Program Makan Bergizi Gratis
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Pertanian menginisiasi unit pengolahan susu skala kecil yang terintegrasi dengan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menyerap produksi peternak lokal.
- Konsep Dapur Susu Indonesia (Dasi) menargetkan perluasan peternakan sapi perah ke luar Jawa, dengan investasi di bawah Rp5 miliar per unit yang mampu menyuplai 5โ10 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.
- Langkah ini diharapkan mengurangi ketergantungan impor susu yang saat ini mencapai 75% kebutuhan nasional, sekaligus meningkatkan produktivitas peternak dari di bawah 20 liter per hari menjadi 25 liter.
Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan konsep Dapur Susu Indonesia (Dasi) sebagai solusi untuk memperkuat pasokan susu segar dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus membuka pasar baru bagi peternak sapi perah di dalam negeri. Inisiatif ini dirancang untuk mengintegrasikan unit pengolahan susu skala kecil dengan dapur MBG di berbagai daerah, sehingga penyerapan hasil peternakan lokal lebih terjamin.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, menjelaskan bahwa konsep Dasi menghubungkan peternakan dengan kapasitas 100โ200 ekor sapi perah ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sekitarnya. โKami sudah membuat prototipe dengan modal di bawah Rp5 miliar per unit, yang bisa menyuplai lima hingga sepuluh SPPG,โ ujarnya di Jakarta, Selasa (2/6/2026). Pola ini dinilai mampu menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan: peternak mendapatkan kepastian penjualan, sementara program MBG memperoleh pasokan susu segar yang konsisten.
Selama ini, pengembangan sapi perah di Indonesia masih terpusat di Pulau Jawa. Makmun menekankan bahwa wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, hingga Indonesia Timur memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Teknologi peternakan modern memungkinkan sapi perah dibudidayakan di dataran rendah, seperti yang sudah diterapkan di Subang dan Brebes. โSekarang tidak harus di dataran tinggi,โ tambahnya.
Program MBG menjadi momentum strategis bagi industri susu nasional. Kementan mencatat populasi sapi perah saat ini sekitar 540.657 ekor, dengan lebih dari 90 persen dikelola peternak rakyat. Namun, produksi dalam negeri baru memenuhi 25 persen kebutuhan nasional; sisanya dipenuhi melalui impor. Melalui Dasi, pemerintah berharap dapat mendorong peningkatan produktivitas peternak dari rata-rata di bawah 20 liter per hari menjadi 25 liter per hari, mendekati capaian negara lain yang sudah di atas 30 liter.
Untuk mendukung peningkatan populasi, pemerintah bersama pelaku usaha telah mengimpor hampir 15 ribu ekor sapi bunting sepanjang tahun lalu. Langkah ini dibarengi dengan upaya perbaikan kualitas pakan dan kesehatan hewan. โDulu peternak kecil kalah dalam promosi dan penjualan. Sekarang, dengan program pemerintah, off-taker sudah tersedia,โ kata Makmun.
Bagi Indonesia, konsep Dasi tidak hanya menjawab tantangan ketahanan pangan, tetapi juga membuka peluang investasi di sektor peternakan di luar Jawa. Dengan adanya jaminan pasar dari program MBG, peternak kecil dapat lebih leluasa mengembangkan usahanya. Namun, keberhasilan inisiatif ini bergantung pada konsistensi pendanaan, ketersediaan infrastruktur, serta adopsi teknologi oleh peternak di daerah terpencil.
Ke depan, pemerintah perlu memastikan bahwa unit Dasi yang dibangun benar-benar terintegrasi dengan baik, serta memberikan pendampingan teknis agar target produktivitas tercapai. Pertanyaan yang masih mengemuka: mampukah skema ini mempercepat substitusi impor susu, atau justru menghadapi kendala distribusi dan kualitas di lapangan?


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7763180/original/047805700_1780573209-IMG_0932.jpeg)