Ferrari Luce: Mobil Listrik Perdana yang Memicu Kemarahan Kolektor dan Investor
Baca dalam 60 detik
- Ferrari meluncurkan Luce, EV pertama seharga $640.000, namun sahamnya langsung anjlok 8% akibat kritik desain dan kekhawatiran akan hilangnya identitas merek.
- Para kritikus, termasuk mantan ketua dan pejabat Italia, menilai Luce tidak lagi mencerminkan ciri khas Ferrari, sementara pesaing seperti Lamborghini justru mundur dari rencana EV.
- Di tengah persaingan ketat dengan produsen China seperti BYD, Ferrari mengandalkan daya tarik pada pembeli muda yang lebih terbuka terhadap EV, meski berisiko mengasingkan basis penggemar setianya.

Ferrari untuk pertama kalinya dalam sejarah meluncurkan mobil listrik (EV) yang diberi nama Luce—sebuah langkah berani yang langsung dihujani kritik dari berbagai kalangan, mulai dari kolektor, investor, hingga politisi Italia. Alih-alih disambut gegap gempita, saham perusahaan justru ambles 8% sehari setelah peluncuran, sementara media sosial dibanjiri meme yang mengejek desain mobil seharga $640.000 itu.
Luce merupakan hasil kolaborasi dengan Sir Jony Ive, desainer iPhone legendaris, dan menjadi EV pertama serta model lima kursi pertama Ferrari. Meski hadir dengan spesifikasi gila—akselerasi 0-96 km/jam dalam 2,5 detik dan kecepatan puncak di atas 305 km/jam—bentuknya yang tidak lagi rendah dan lebar seperti supercar khas Ferrari menuai kecaman. Mantan Ketua Ferrari, Luca Cordero di Montezemolo, bahkan menyebut Luce berisiko “menghancurkan legenda” dan menyarankan agar logo kuda jingkrak dicopot dari mobil tersebut.
Kritik juga datang dari Wakil Perdana Menteri Italia Matteo Salvini yang meragukan inovasi ini, seraya bertanya apa yang akan dikatakan Enzo Ferrari, pendiri perusahaan. Sementara itu, kolektor mobil mewah asal Australia, Shaun Baker, dengan sinis menjuluki Luce sebagai “si pecundang” dan menilai Ferrari telah mencoreng citranya sebagai merek aspirasional. Baker bahkan menunjukkan bahwa hasil suntingan AI dalam 10 detik pun tampak lebih sporty dibanding desain resmi Ferrari.
Namun, CEO Ferrari Benedetto Vigna bukanlah orang yang asing dengan kontroversi. Pada 2022, ia meluncurkan Purosangue, SUV pertama Ferrari, yang juga sempat dikritik namun akhirnya sukses di pasaran. Vigna membela Luce dengan menyebutnya sebagai inovasi yang sepadan dengan harganya, dan mengklaim minat pembeli sudah tinggi. Meski demikian, tekanan dari pasar dan persaingan global tidak bisa diabaikan.
Ferrari bukan satu-satunya pabrikan yang mendapat reaksi keras saat beralih ke listrik. Jaguar pada 2024 juga menuai kontroversi dengan konsep Type 00 yang dianggap meninggalkan akar desain klasiknya. Namun, keputusan Ferrari untuk meluncurkan EV di saat banyak pesaing justru mengerem program listrik mereka patut dicermati. Lamborghini misalnya, membatalkan rencana EV karena permintaan lemah dan lebih memilih fokus pada hybrid. Porsche, Honda, dan Ford juga ikut mengurangi ambisi elektrifikasi mereka.
Di sisi lain, persaingan dari China semakin sengit. Negara tersebut memiliki rantai pasok EV yang menekan biaya produksi hingga 30% lebih rendah dibanding negara lain, ditambah subsidi besar-besaran yang memicu perang harga. Produsen China seperti BYD sudah meluncurkan supercar listrik Yangwang U9 seharga $250.000 dengan akselerasi lebih cepat dari Luce. Hal ini memaksa Ferrari untuk membidik segmen pasar yang berbeda—pembeli muda yang lebih terbuka terhadap EV dan mungkin tidak terikat pada tradisi desain Ferrari.
Analis mobil asal Singapura, James Wong, menilai interior Luce memang indah, tetapi secara keseluruhan mobil ini “tidak bisa dikenali” sebagai Ferrari. Ia juga menyoroti harga yang sangat tinggi di tengah menjamurnya EV mewah dengan harga lebih terjangkau. Namun, Wong tidak menutup kemungkinan bahwa kontroversi ini justru sengaja diciptakan untuk menarik perhatian media dan memperluas basis pelanggan.
Bagi Indonesia, kehadiran Ferrari Luce menjadi pengingat bahwa transisi ke kendaraan listrik tidak hanya soal teknologi, tetapi juga identitas merek dan loyalitas konsumen. Pasar otomotif Indonesia yang mulai melirik EV premium tentu akan mengamati apakah langkah Ferrari ini akan menjadi preseden bagi merek-merek lain. Pertanyaannya, akankah Ferrari mampu mempertahankan aura eksklusivitasnya di era elektrifikasi, atau justru kehilangan jiwa yang selama ini membuatnya begitu istimewa?



