Dari Prangko ke Aplikasi: Perjalanan Panjang Sensus India Membangun Kepercayaan Publik
Baca dalam 60 detik
- India akan menggelar sensus ke-16, yang pertama secara digital, dengan pengumpulan data melalui aplikasi ponsel.
- Pameran prangko dan poskart mengungkap bagaimana kantor pos dulu menjadi alat utama pemerintah membangun kepercayaan warga untuk berpartisipasi dalam sensus.
- Tantangan membangun kepercayaan tetap relevan di era digital, terutama dengan rencana pengumpulan data kasta yang sensitif politik.

India bersiap menyelenggarakan sensus nasional ke-16—yang pertama sepenuhnya digital—namun di balik aplikasi ponsel dan data real-time, tersimpan sejarah panjang bagaimana negeri ini membangun kepercayaan warganya melalui prangko dan poskart. Sebuah pameran di Bengaluru kini mengungkap peran kantor pos sebagai pilar komunikasi negara dalam sensus pasca-kemerdekaan.
Pameran yang dikuratori Vikas Kumar, profesor ekonomi di Azim Premji University, menelusuri bagaimana sistem pos India menjadi instrumen nation-building yang tak terduga. Setelah merdeka pada 1947, India sangat membutuhkan data demografis yang andal untuk menyelenggarakan pemilu berdasarkan hak pilih universal dan membangun ekonomi terencana. Urgensi ini mendorong pengesahan Undang-Undang Sensus pada 1948, bahkan sebelum konstitusi rampung.
Namun pemerintah menghadapi dua tantangan besar: meyakinkan warga untuk berpartisipasi dan menjaga komunikasi antara petugas sensus di pelosok desa. Kepercayaan menjadi isu krusial setelah sensus kolonial 1931 dan 1941 diboikot di sejumlah daerah, sementara sensus 1941 di Punjab dan Bengal dituding dimanipulasi secara komunal. Di sinilah kantor pos berperan.
Menurut Kumar, hingga beberapa dekade lalu, departemen pos adalah jaringan komunikasi terbesar yang dimiliki negara India. Setelah kemerdekaan, sistem pos berkembang lebih cepat dibanding jaringan publik lain, termasuk perbankan. Pemerintah memanfaatkan jaringan ini untuk kampanye publik. Menjelang sensus 1951—sensus pertama setelah merdeka—mereka menggunakan cap pos bergambar dwibahasa yang menunjukkan keluarga beranggotakan tiga orang dengan tulisan "Sensus India" dalam Hindi dan Inggris. Kampanye ini dirancang untuk negara dengan tingkat melek huruf rendah; tukang pos sering merangkap sebagai pembaca, juru tulis, dan perantara negara informal di desa-desa.
Pesan dalam cap pos pun berevolusi. Pada 1961, cap pos mendesak warga untuk "Daftarkan diri dan seluruh keluarga" serta "Ajak teman-temanmu melakukan hal yang sama". Pada 1971, prangko peringatan merayakan sensus sebagai "salah satu operasi administratif terbesar di dunia" dan mencatat bahwa data kini diproses dengan komputer elektronik. Iklan pada 2000 menggambarkan sensus sebagai "Cermin bangsa" dan "Potret kelompok bangsa", menyajikannya bukan sebagai latihan birokrasi melainkan potret diri kolektif. Namun, citra kemudian semakin mengaitkan sensus dengan pengendalian populasi, menonjolkan norma dua anak—cerminan kecemasan era itu.
Bagi Kumar, artefak pos yang rapuh ini menangkap lebih dari sekadar sejarah birokrasi. "Mereka mengungkap bagaimana negara India membangun legitimasi dan kepercayaan melalui komunikasi sehari-hari—dan bagaimana sensus menjadi terjalin dengan gagasan pembangunan, keragaman, dan identitas nasional," ujarnya. Pertanyaan tentang kepercayaan itu tetap relevan saat ini. Meskipun alat digital mempercepat pengumpulan data, Kumar memperingatkan bahwa teknologi saja tidak menjamin data yang andal. "Kesadaran tentang sensus sangat penting untuk membangun kepercayaan," katanya, seraya menekankan pemerintah harus menemukan cara baru membangun keyakinan publik seiring memudarnya jangkauan sistem pos.
Sensus yang akan digelar India kini sangat berbeda. Untuk pertama kalinya, pengumpulan data dilakukan secara digital melalui aplikasi ponsel oleh jutaan petugas—biasanya guru, pejabat lokal, dan staf pemerintah. Sensus ini juga akan mengumpulkan data kasta untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, sebuah langkah sensitif politik di negara tempat kasta masih membentuk kehidupan sosial dan ekonomi. Skalanya tetap mencengangkan: mencakup 36 negara bagian dan wilayah federal, lebih dari 7.000 kecamatan, 9.700 kota, dan hampir 640.000 desa. Dari cap pos berbentuk keluarga hingga data yang diunggah instan dari ponsel pintar, perjalanan sensus India telah jauh. Namun, tantangan mendasarnya tetap sama: meyakinkan lebih dari satu miliar orang untuk percaya pada negara sehingga mereka bersedia menghitung diri mereka ke dalam cerita bangsa.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7513600/original/077726100_1780285828-Megawati_Gandeng_Prabowo.jpeg)
