Prabowo-Megawati Bergandengan Tangan: Simbol Persatuan atau Sekadar Etika Politik?
Baca dalam 60 detik
- Penasihat Khusus Presiden Hasan Nasbi mengonfirmasi hubungan baik Prabowo dan Megawati meski terdapat perbedaan pandangan politik.
- Momen saling menggandeng tangan di Hari Lahir Pancasila menjadi sinyal rekonsiliasi di tengah polarisasi elite.
- Gestur ini dinilai sebagai upaya Prabowo merawat persatuan nasional, namun publik menunggu implementasi kebijakan ke depan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7513600/original/077726100_1780285828-Megawati_Gandeng_Prabowo.jpeg)
Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bergandengan tangan dalam upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Jakarta, Senin (1/6/2026). Momen yang terekam kamera itu langsung menjadi sorotan, mengingat keduanya kerap berseberangan dalam kontestasi politik. Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, menegaskan bahwa hubungan Prabowo dengan para pendahulunya, termasuk Megawati, tetap terjaga baik.
"Presiden Prabowo dekat dengan semua tokoh politik. Beliau tidak punya jarak emosional dengan presiden maupun wakil presiden pendahulunya," kata Hasan kepada wartawan, Selasa (2/6/2026). Ia mengakui adanya perbedaan pandangan antara Prabowo dan Megawati, tetapi hal itu tidak merusak hubungan personal. "Ada perbedaan-perbedaan. Tapi hubungan tetap baik," ujarnya.
Momen tersebut terjadi setelah upacara selesai. Prabowo yang memimpin jalannya acara kemudian menyalami satu per satu tamu undangan, termasuk Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, serta Megawati yang duduk di sampingnya. Setelah bersalaman, Prabowo dan Megawati terlibat obrolan ringan. Saat hendak berjalan menuju area dalam, keduanya saling mempersilakan untuk berjalan lebih dulu, hingga akhirnya berjalan bergandengan tangan sambil tersenyum.
Hasan menekankan bahwa Prabowo selalu mengutamakan agenda persatuan nasional di atas perbedaan. "Presiden pasti mengutamakan agenda persatuan nasional," tuturnya. Pernyataan itu sejalan dengan citra Prabowo yang sejak kampanye mengusung semangat rekonsiliasi. Namun, di kalangan pengamat, momen ini dinilai belum cukup untuk mengukur kedekatan politik riil. "Ini etika politik yang baik, tapi belum tentu berujung pada kerja sama struktural," ujar analis politik dari Universitas Indonesia, Boni Hargens.
Bagi Indonesia, momen ini memiliki bobot historis. Megawati adalah putri Proklamator Soekarno yang juga pernah menjadi presiden, sementara Prabowo adalah mantan rival politiknya. Pertemuan hangat di Hari Lahir Pancasilaโhari kelahiran ideologi negaraโmemberi sinyal bahwa elite politik mampu meninggalkan rivalitas demi kepentingan bangsa. Namun, publik masih menanti apakah simbol ini akan diikuti oleh langkah konkret, seperti dukungan PDIP terhadap kebijakan pemerintah atau bahkan bergabungnya PDIP ke dalam koalisi.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: akankah momen ini menjadi awal dari era baru kolaborasi politik, atau sekadar seremoni belaka? Dengan Pemilu 2029 yang masih tiga tahun lagi, dinamika antar-elite akan terus diuji. Satu hal yang pasti, rakyat Indonesia menanti bukti bahwa persatuan tidak hanya berhenti pada genggaman tangan di depan kamera.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7759536/original/090510200_1780568807-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7747168/original/040448300_1780554845-WhatsApp_Image_2026-06-04_at_13.32.04.jpeg)
