Misi Penyelamatan di Goa Laos: 5 Pencari Emas Terjebak, Medan Bagaikan 'Menyelam ke Dalam Kopi'
Baca dalam 60 detik
- Lima pencari emas terjebak di goa sempit Xaisomboun, Laos, setelah longsor akibat hujan deras menutup jalan keluar.
- Penyelamat dari berbagai negara, termasuk Indonesia, dikerahkan; kondisi goa yang penuh lumpur dan air keruh membuat misi ekstraksi sangat berbahaya.
- Musim hujan yang baru dimulai mengancam memperburuk situasi, dengan risiko banjir bandang yang bisa menggenangi kembali goa.
Lima pencari emas yang terperangkap di dalam goa di Provinsi Xaisomboun, Laos, sejak pekan lalu masih belum bisa dievakuasi akibat medan bawah tanah yang ekstrem—lumpur rawan longsor, lorong sesak, dan genangan air setinggi 30 meter yang harus ditembus dengan teknik menyelam berbahaya. Tim penyelamat internasional yang tiba pada Jumat (29/5) harus berhadapan dengan kondisi yang oleh salah satu penyelam veteran disebut sebagai "menyelam ke dalam kopi" karena visibilitas nyaris nol.
Kelima pria itu masuk ke goa untuk mencari emas, namun longsor yang dipicu hujan lebat menutup pintu keluar. Awalnya dilaporkan tujuh orang hilang, tetapi penyelam asal Finlandia, Mikko Paasi—yang juga terlibat dalam misi penyelamatan tim sepak bola Thailand 2018—menemukan hanya lima orang dalam keadaan selamat meski pucat dan lemah. "Melihat mereka duduk kelabu tapi masih semangat, itu momen yang luar biasa," ujar Paasi kepada ABC News.
Goa tersebut memiliki lorong yang sangat sempit; penyelam harus bertubuh ramping, berat di bawah 70 kilogram, dan mampu merayap seperti cacing untuk melewati celah-celah batu. "Jika claustrophobia punya wujud, inilah dia," kata Paasi. Ia menggambarkan pergerakan di dalam terowongan sepanjang ratusan meter hanya mengandalkan ujung jari tangan dan kaki, sambil membawa tabung oksigen. Bagian akhir yang terendam air sepanjang 30 meter menjadi tantangan utama: kegelapan total, dinding lumpur yang mudah runtuh, dan risiko tenggelam jika peralatan gagal.
Penyelam Australia Josh Richards, yang akan bergabung Jumat pagi, mengaku takut meski sudah berpengalaman menelusuri goa-goa sempit di Limestone Coast. "Video yang dikirim Mikko bisa menakutkan siapa pun," katanya kepada 7News. Richards dipilih karena posturnya kecil dan kemampuannya menyusup ke ruang sempit. Ia menegaskan bahwa goa ini jauh lebih kecil dibanding goa tempat penyelamatan tim sepak bola Thailand, baik dari segi panjang maupun diameter lorong.
Pemerintah Laos berupaya memompa air keluar dari goa, namun genangan masih signifikan. Paasi mengingatkan bahwa musim hujan baru saja tiba; badai dapat dengan cepat mengisi ulang goa dan membuat sistem pompa tidak efektif. "Kami menunggu prakiraan cuaca untuk memutuskan langkah selanjutnya. Jika hujan turun, kami akan dalam masalah besar," ujarnya.
Bagi Indonesia, keterlibatan penyelam Tanah Air dalam misi ini menegaskan peran aktif dalam operasi kemanusiaan regional. Namun, kondisi ekstrem goa Laos juga menjadi pengingat akan risiko serupa di goa-goa karst Indonesia, seperti di kawasan Gunung Kidul atau Maros-Pangkep, yang kerap menjadi lokasi pencarian fosil atau tambang tradisional. Belum ada standar operasi penyelamatan khusus untuk goa sempit di Indonesia, sehingga pengalaman dari Laos bisa menjadi bahan evaluasi bagi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).
"Jika sesuatu terjadi, Anda berada begitu dalam di bawah tanah, di balik terowongan panjang dan sempit, sehingga Anda benar-benar sendirian," kata Mikko Paasi menggambarkan risiko penyelaman goa.
Pertanyaan kritis kini mengemuka: akankah cuaca bersahabat cukup lama untuk mengevakuasi kelima pria itu sebelum goa kembali terendam? Atau, apakah tim penyelamat harus mengambil risiko ekstra dengan menyelam di kondisi nol visibilitas? Keputusan dalam 24 jam ke depan akan menentukan nasib para pencari emas yang nekat masuk ke perut bumi Laos.



