Nyamuk Bisa Belajar Menyukai DEET: Studi Ungkap Kelemahan Repelan
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru menunjukkan nyamuk Aedes aegypti dapat belajar mengasosiasikan bau DEET dengan hadiah makanan setelah beberapa kali pemaparan.
- Lebih dari 60% nyamuk yang terlatih justru tertarik pada tangan yang diolesi DEET, membalikkan efek repelan yang seharusnya.
- Temuan ini menekankan pentingnya penggunaan ulang repelan secara teratur sesuai dosis yang dianjurkan untuk mencegah nyamuk membentuk asosiasi belajar.

Selama puluhan tahun, DEET dianggap sebagai senjata paling ampuh melawan gigitan nyamuk. Namun, sebuah studi terbaru dari Virginia Tech mengungkap bahwa nyamuk ternyata bisa belajar untuk justru menyukai bau bahan kimia tersebut—sebuah temuan yang mengguncang asumsi dasar tentang cara kerja repelan.
Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Experimental Biology ini menggunakan teknik pengondisian Pavlov untuk melatih nyamuk Aedes aegypti—vektor utama demam kuning, dengue, Zika, dan chikungunya—agar mengaitkan aroma DEET dengan kesempatan mendapatkan darah. Setelah empat kali pemaparan, lebih dari 60% nyamuk yang terlatih berusaha menghisap darah saat hanya dihadapkan pada bau DEET, tanpa adanya sumber darah.
Yang lebih mengkhawatirkan, ketika nyamuk-nyamuk itu diberi pilihan antara tangan manusia yang diolesi DEET dan yang tidak, mereka yang sudah terlatih justru lebih memilih tangan yang mengandung DEET. “Yang luar biasa adalah sejauh mana nyamuk belajar ‘menyukai’ DEET, bahkan kehadiran DEET meningkatkan daya tarik inang manusia,” kata Clément Vinauger, PhD, asisten profesor di Virginia Tech dan penulis utama studi.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa DEET tetap menjadi repelan paling efektif yang tersedia. Temuan ini tidak berarti kita harus berhenti menggunakannya, melainkan menyoroti pentingnya cara dan waktu pemakaian. Jika konsentrasi DEET pada kulit melemah—misalnya karena pemakaian lama tanpa reaplikasi—nyamuk yang masih bisa menggigit berpotensi belajar bahwa bau DEET tidak berbahaya dan bahkan mengindikasikan adanya makanan.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki implikasi langsung. Negara kita merupakan salah satu beban tertinggi penyakit bawaan nyamuk seperti demam berdarah. Kebiasaan mengoleskan repelan sekali di pagi hari tanpa reaplikasi, atau penggunaan kelambu yang sudah lama diresapi DEET, bisa menjadi celah bagi nyamuk untuk belajar dan beradaptasi. Vinauger mengingatkan, “Jika jumlah DEET yang tersisa di kulit terlalu rendah, nyamuk bisa menggigit dan belajar bahwa DEET tidak masalah.”
Penelitian ini juga menekankan pentingnya diversifikasi strategi pengendalian nyamuk. Selain repelan, langkah sederhana seperti menguras tempat penampungan air, memasang kasa jendela, dan menggunakan repelan alternatif seperti pikaridin bisa membantu. “Memperkuat gudang senjata kita melawan nyamuk akan mengurangi risiko mereka menjadi resisten atau mengakali strategi pengendalian,” ujar Vinauger.
Ke depan, para ilmuwan berharap pemahaman yang lebih baik tentang biologi sensorik dan kemampuan kognitif nyamuk dapat mendorong pengembangan repelan baru yang lebih cerdas—bukan sekadar mengandalkan ribuan zat kimia yang diuji coba secara acak. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah nyamuk di Indonesia sudah mulai belajar menyukai DEET di lapangan, ataukah masih sekadar fenomena laboratorium?



