Sinner Tumbang di Prancis Terbuka: Juara Bertahan Kehabisan Energi
Baca dalam 60 detik
- Petenis nomor satu dunia Jannik Sinner tersingkir di babak kedua Prancis Terbuka setelah mengeluh kelelahan dan pusing.
- Kekalahan dari Juan Manuel Cerundolo mengakhiri rekor 30 kemenangan beruntun Sinner dan membuka peluang bagi pesaing lain.
- Jadwal padat Sinner, termasuk tiga gelar tanah liat berturut-turut, dipertanyakan setelah performanya menurun drastis.

Jannik Sinner, petenis nomor satu dunia asal Italia, harus mengakui keunggulan Juan Manuel Cerundolo di babak kedua Prancis Terbuka, Kamis (5/6), setelah mengalami penurunan fisik yang dramatis di tengah pertandingan. Unggulan teratas itu mengaku "kehabisan energi" dan merasa pusing, meski suhu di Paris yang mencapai 34 derajat Celsius bukanlah penyebab utamanya.
Sinner memulai laga dengan gemilang, unggul 6-3, 6-2, dan 5-1 di set ketiga. Namun, tiba-tiba ia tampak limbung, kehilangan tiga game beruntun, dan memanggil dokter karena merasa ingin muntah. Ia sempat meninggalkan lapangan untuk perawatan, tetapi tidak mampu mengembalikan kondisi fisiknya. Cerundolo, yang berada di peringkat 56 dunia, akhirnya menang 3-6, 2-6, 7-5, 6-1, 6-1 dalam waktu 3 jam 36 menit.
Kekalahan ini menjadi salah satu kejutan terbesar di Roland Garros dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, hanya tiga pemain yang mampu merebut satu set dari Sinner di atas tanah liat sepanjang 2026. Ia datang ke Paris dengan rekor 30 kemenangan beruntun dan telah memenangi tiga turnamen Masters 1000 berturut-turut di Monte-Carlo, Madrid, dan Roma. "Saya bangun pagi ini dan merasa tidak enak. Saya mencoba memperpendek reli, tapi tiba-tiba seperti menabrak tembok," ujar Sinner usai pertandingan.
Analis tenis, termasuk mantan petenis nomor satu Inggris Tim Henman, menilai jadwal padat Sinner patut dipertanyakan. Dalam dua bulan terakhir, ia bermain di Indian Wells, Miami, Monte-Carlo, Madrid, dan Roma—lima turnamen besar tanpa jeda. "Seharusnya Sinner melewatkan Madrid atau Roma untuk menjaga kondisi," kata Henman di TNT Sports. Sinner sendiri mengakui bahwa jadwal mungkin berpengaruh, meski ia tidak menyesali keputusannya. "Jika saya tidak main di Madrid atau Roma, mungkin saya tetap akan merasa sakit hari ini. Sulit melihat ke belakang," tambahnya.
Kekalahan ini membuka peluang bagi petenis lain untuk merebut gelar, terutama setelah Carlos Alcaraz absen karena cedera. Sinner sebelumnya dianggap sebagai favorit terkuat sejak Rafael Nadal pada 2009—ironisnya, Nadal juga tersingkir lebih awal tahun itu setelah jadwal padat. Bagi Sinner, ini adalah kegagalan pertamanya mencapai pekan kedua Grand Slam sejak Prancis Terbuka 2023, dan pukulan telak bagi ambisinya menyelesaikan Grand Slam karier.
Di Indonesia, kekalahan Sinner menjadi pengingat betapa pentingnya manajemen beban bagi atlet elite. Dengan turnamen yang semakin padat dan tuntutan komersial yang tinggi, keseimbangan antara performa dan kesehatan fisik menjadi krusial. Para penggemar tenis Tanah Air tentu berharap Sinner bisa pulih sepenuhnya sebelum mempertahankan gelar Wimbledon pada 28 Juni mendatang. Namun, pertanyaan besarnya: akankah ia belajar dari pengalaman ini untuk mengatur jadwal lebih bijak di masa depan?



