Barry Manilow: Kanker Paru Stadium 1, Sebuah Pelajaran tentang Kerendahan Hati
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi legendaris Barry Manilow mengaku sempat meremehkan risiko kanker karena kesibukannya di industri musik.
- Diagnosis kanker paru stadium 1 pada Desember 2025 memaksanya menjalani operasi dan perawatan intensif, termasuk tujuh hari di ICU.
- Pengalaman ini mengubah pandangannya tentang kendali dan pentingnya menerima bantuan dari orang lain.

Barry Manilow, penyanyi dan penulis lagu berusia 82 tahun, mengaku tidak pernah membayangkan dirinya akan berhadapan dengan kanker. Keyakinan itu runtuh setelah ia didiagnosis menderita kanker paru stadium 1 pada Desember 2025. Penyakit itu terdeteksi secara tidak sengaja saat ia menjalani MRI akibat bronkitis berulang.
Dalam wawancara dengan Los Angeles Times, Manilow menceritakan perjalanan kesehatannya yang penuh kejutan. Ia menjalani lobektomi untuk mengangkat tumor ganas di paru kirinya. Meski operasi berjalan sesuai rencana, komplikasi pascaoperasi seperti fibrilasi atrium, refluks asam, dan pneumonia membuatnya harus dirawat di unit perawatan intensif (ICU) selama tujuh hari.
“Saya pikir kanker tidak akan pernah menyerang saya—itu bukan bagian dari skenario saya,” ujar Manilow. Ia mengaku terlalu sibuk dengan karier musiknya sehingga mengabaikan kemungkinan terburuk. “Saya selalu menjadi pemimpin—pemimpin band, pemimpin penonton—tetapi kali ini saya bukan pemimpin. Itu pelajaran besar bagi saya. Saya harus bergantung pada orang lain: perawat, dokter, teman-teman.”
Manilow, yang sebelumnya berhasil sembuh dari kanker tenggorokan pada 2020, mengaku bahwa proses pemulihan kali ini jauh lebih berat. Berat badannya turun drastis hingga 128 pon (sekitar 58 kilogram). Ia terpaksa menunda sejumlah konser yang dijadwalkan pada Januari 2026, dan hingga lima bulan kemudian ia belum kembali ke panggung. “Siksaan,” katanya menggambarkan perasaan tidak bisa tampil.
Bagi penggemar musik di Indonesia, kisah Manilow mengingatkan bahwa kesehatan tidak boleh diabaikan meskipun seseorang merasa prima dan sibuk. Kanker paru stadium awal sering kali tidak menunjukkan gejala, sehingga deteksi dini melalui pemeriksaan rutin menjadi krusial. Di Indonesia, kesadaran akan skrining kanker paru masih rendah, padahal penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi akibat kanker.
Manilow, yang dikenal lewat lagu-lagu seperti “Copacabana” dan “Mandy”, menegaskan bahwa ia akan mengikuti saran dokter untuk pulih sepenuhnya. “Saya harus menjadi lebih baik dan melakukan apa yang dikatakan dokter. Itu satu-satunya jalan keluar,” ujarnya. Pertanyaan besarnya kini: mampukah ia kembali ke panggung dengan energi yang sama seperti sebelumnya?



