Arema FC Siapkan Revolusi Skuad: Setengah Pemain Terancam Dilepas
Baca dalam 60 detik
- Manajemen Arema FC berencana mempertahankan hanya 50 persen pemain untuk musim 2026/2027 setelah gagal mencapai target lima besar.
- Dua pemain asing, Lucas Frigeri dan Valdeci Moreira, sudah dilepas; sejumlah pemain lain menyusul dalam waktu dekat.
- Kebijakan bongkar pasang ini merupakan pola berulang Arema dalam empat musim terakhir akibat prestasi yang stagnan di papan tengah.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6612614/original/088907900_1779445731-IWN_3703.jpg.jpeg)
Arema FC tengah bersiap melakukan perombakan besar-besaran menjelang kompetisi Super League 2026/2027. Manajemen klub berjuluk Singo Edan itu mengindikasikan hanya separuh dari skuat saat ini yang akan dipertahankan, menyusul kegagalan mencapai target ambisius musim lalu.
General Manager Arema, Yusrinal Fitriandi, mengungkapkan bahwa pihaknya masih melakukan diskusi internal sebelum mengumumkan daftar pemain yang bakal bertahan. βKami ingin terus berkembang. Pemain yang dipertahankan untuk musim depan mungkin 50 persen,β ujarnya. Langkah ini diambil setelah Arema hanya mampu finis di peringkat kesembilan klasemen dengan raihan 48 poin, jauh dari target awal yang dipatok bersama pelatih Marcos Santos, yakni masuk lima besar.
Dua pemain asing, Lucas Frigeri dan Valdeci Moreira, sudah dipastikan hengkang. Manajemen menyebut jumlah pemain yang akan meninggalkan klub akan bertambah dalam waktu dekat. Keputusan ini bukan tanpa alasan: selain ketidakpuasan terhadap hasil akhir, Arema juga mengevaluasi performa tim secara keseluruhan yang dinilai belum konsisten sepanjang musim.
Kebijakan bongkar pasang ini sebenarnya bukan hal baru bagi Arema. Dalam empat musim terakhir, klub asal Malang itu kerap melakukan perombakan skuat karena selalu gagal mencapai target. Terakhir kali Arema bersaing di papan atas adalah pada musim 2021/2022, saat finis di urutan keempat. Setelah itu, prestasi tim cenderung menurun dan berkutat di papan tengah hingga bawah.
Menariknya, Arema memiliki catatan khusus dalam memperlakukan pelatih asing. Eduardo Almeida, pelatih asal Portugal, menjadi satu-satunya pelatih asing yang mendapat perpanjangan kontrak di Arema. Namun, pada musim keduanya, ia hanya bertahan hingga putaran pertama. Sementara itu, pelatih lokal seperti Benny Dollo dan Suharno beberapa kali mendapat perpanjangan kontrak karena dinilai berkarakter dan mampu memberikan trofi. Benny Dollo sukses membawa Arema juara Copa Indonesia dua kali beruntun (2005 dan 2006), sedangkan Suharno menjadikan Arema sebagai raja turnamen dengan berbagai gelar seperti Gubernur Jatim, Trofeo Persija, Bali Island Cup, Inter Island Cup, dan SCM Cup.
Keputusan Arema untuk merombak separuh skuat juga menjadi sinyal bahwa manajemen tidak segan mengambil langkah drastis demi memperbaiki performa. Dengan kompetisi yang semakin ketat, terutama dengan hadirnya tim-tim yang diperkuat pemain asing berkualitas, Arema dituntut untuk lebih kompetitif. Pertanyaan besarnya, akankah strategi revolusi skuat ini membawa Singo Edan kembali ke papan atas, atau justru mengulang siklus ketidakstabilan yang sudah terjadi dalam beberapa musim terakhir?



