Cynthia Erivo Batal Kampanye Oscar Usai Insiden di Singapura: 'Kemanusiaan Saya Direndahkan'
Baca dalam 60 detik
- Cynthia Erivo memutuskan tidak berkampanye untuk Oscar setelah viralnya momen ia melindungi Ariana Grande dari seorang penggemar di Singapura.
- Aktris kulit hitam itu mengaku menjadi sasaran meme rasis yang mengejek fisiknya, membuatnya merasa kemanusiaannya direndahkan.
- Keputusan ini memicu diskusi tentang bias rasial di industri hiburan dan tekanan psikologis yang dihadapi selebritas.

Aktris Cynthia Erivo secara terbuka mengungkapkan alasan di balik keputusannya untuk tidak gencar berkampanye meraih nominasi Oscar untuk perannya di Wicked: For Good. Semua bermula dari insiden di Singapura pada November 2025, ketika ia spontan melindungi lawan mainnya, Ariana Grande, dari seorang pria yang menerobos barikade. Alih-alih mendapat pujian, Erivo justru diterpa gelombang hujatan dan meme rasis yang berfokus pada penampilannya sebagai perempuan kulit hitam.
Dalam wawancara dengan Variety, Erivo menceritakan detik-detik mencekam di Universal Studios Singapura. Saat para pemain berjalan di atas jalur bata kuning, seorang pria bernama Johnson Wen melompati pagar dan langsung menuju Grande. “Tidak ada yang bergerak. Tidak ada. Jadi saya bergerak karena otak saya berkata, ‘Jauhkan dia! Keluarkan dia dari sini!’” ujar Erivo. Ia menambahkan bahwa pria itu tidak mau melepaskan Grande, sehingga ia terus mendorongnya hingga petugas keamanan tiba.
Namun, yang terjadi setelahnya justru menyakitkan. Media sosial dipenuhi meme dan video TikTok yang mengejek fisik Erivo—kepalanya yang botak, posturnya yang lebih besar, dan asumsi bahwa ia bersikap protektif karena lebih dominan. “Mereka mengolok-olok penampilan saya. Karena itu, muncul anggapan bahwa saya lebih besar dari rekan saya, jadi saya harus mengontrol atau melindungi,” keluh Erivo. Ia menyebut serangan itu sebagai bentuk “penistaan kemanusiaan”.
Keputusan Erivo untuk tidak aktif dalam perburuan piala Oscar punya dampak besar. Sebagai salah satu aktris yang digadang-gadang masuk nominasi, langkah ini jarang terjadi di Hollywood. “Mungkin secara tidak langsung itu memengaruhi,” akunya. “Saya merasa kemanusiaan saya telah dinodai. Tindakan spontan saya diubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda karena cara orang memandang perempuan seperti saya.”
Fenomena ini mengingatkan pada kasus serupa di Indonesia, di mana selebritas atau figur publik kerap menjadi sasaran perundungan daring berbasis ras atau penampilan fisik. Belum lama ini, beberapa artis Indonesia juga mengalami tekanan psikologis akibat komentar negatif di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa bias rasial dan body shaming masih menjadi masalah global yang membutuhkan penanganan serius, baik dari platform digital maupun masyarakat.
Erivo juga menyoroti bahwa sekuel Wicked sudah mendapat “hidung yang terangkat” sebelum insiden terjadi. Meski demikian, ia tetap bersyukur atas dampak positif film tersebut. “Wicked adalah badai dalam cangkir teh. Itu mengambil alih segalanya dan—dengan indah—mengubah hidup saya,” tutupnya. Pertanyaan besarnya kini: akankah industri film belajar dari pengalaman Erivo untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan aman bagi semua talenta?



