Pirlo Sesalkan Sepak Bola Italia Stagnan: ‘Jika Masih Aktif, Saya Pilih Premier League’
Baca dalam 60 detik
- Andrea Pirlo menilai Serie A tertinggal dari liga top Eropa karena minim investasi dan mentalitas bertahan.
- Legenda Italia itu sedih negaranya tiga kali berturut-turut gagal lolos Piala Dunia, tanpa perubahan berarti.
- Pirlo mengaku akan memilih bermain di Premier League jika masih aktif, karena Serie A tak lagi kompetitif.

Andrea Pirlo, maestro lini tengah yang membawa Italia juara Piala Dunia 2006, melontarkan kritik pedas terhadap kondisi sepak bola Negeri Pizza. Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport jelang final Liga Champions antara PSG dan Arsenal, Pirlo mengaku akan memilih berkarier di Premier League jika masih aktif—sebuah tamparan keras bagi Serie A yang dianggapnya mandek.
Pirlo, yang kini berusia 45 tahun, menyebut kebekuan sepak bola Italia bukan sekadar masalah teknis. “Kami kekurangan segalanya, termasuk mentalitas untuk memainkan sepak bola menyerang,” ujarnya. Menurut Pirlo, tim-tim yang lolos ke final kompetisi Eropa selalu mengedepankan serangan, sementara klub Italia masih terjebak dalam pragmatisme. Inter Milan, yang menjadi finalis pada 2023 dan 2025, adalah satu-satunya wakil Serie A yang mampu bersaing di papan atas, namun itu pun belum cukup untuk mengembalikan kejayaan seperti era 1990-an.
Data menunjukkan dominasi Italia di Eropa terus merosot. Terakhir kali klub Serie A mengangkat trofi Si Kuping Besar adalah Inter di bawah asuhan José Mourinho pada 2010. Sejak saat itu, gelar juara Liga Champions selalu direbut klub dari Inggris, Spanyol, atau Jerman. Pirlo menilai salah satu penyebab utamanya adalah ketimpangan investasi. “Dulu pemain terbaik datang ke Italia, sekarang mereka pergi ke tempat lain. Itulah perbedaannya,” katanya.
Kegagalan Italia menembus Piala Dunia tiga edisi beruntun menjadi luka tersendiri bagi Pirlo. “Anak-anak saya ingin sekali menonton Italia, saya juga. Piala Dunia adalah momen menyatukan semua orang. Sayang sekali kami melewatkannya tiga kali,” ujarnya dengan nada getir. Pirlo menegaskan bahwa absennya Italia dari turnamen terbesar dunia tidak memicu reformasi berarti. “Tidak ada yang berubah,” katanya singkat.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kritik Pirlo relevan mengingat Serie A pernah menjadi liga favorit di era 1990-an dan awal 2000-an. Siaran langsung Serie A di televisi Indonesia kala itu menyajikan duel-duel kelas dunia seperti Milan versus Juventus. Kini, dominasi Premier League dan La Liga membuat Serie A kehilangan pamor. Pirlo menambahkan bahwa aturan liga perlu dirancang ulang untuk mendorong klub berinvestasi lebih agresif.
Ditanya soal trofi favoritnya, Pirlo tanpa ragu memilih Piala Dunia. “Sejak kecil, Anda bermimpi tampil di Piala Dunia setidaknya sekali dan berharap mengangkat trofi. Saya beruntung bisa melakukannya. Itu tak ternilai. Anda tidak hanya bermain untuk klub, tetapi mewakili negara dan seluruh bangsa,” tutupnya.
Pertanyaan besarnya kini: akankah federasi sepak bola Italia (FIGC) dan klub-klub Serie A mendengar kritik Pirlo? Atau mereka akan terus membiarkan raksasa tidur itu terlelap, sementara negara lain melesat maju?



