Valdeci Moreira Pamit dari Arema: Gol Indah Jadi Penutup Kiprah di BRI Super League
Baca dalam 60 detik
- Gelandang asal Brasil Valdeci Moreira resmi meninggalkan Arema FC setelah satu musim, menyusul kepergian Lucas Frigeri.
- Valdeci mencatatkan 5 gol dan 4 assist dalam 26 pertandingan, namun lebih sering menjadi pemain pengganti di putaran kedua.
- Kepergiannya menambah daftar pemain asing yang hengkang, sementara masa depan pelatih Marcos Santos masih belum jelas.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5312289/original/010988600_1754915518-Valdeci_Moreira_gelandang_arema_saat_menghadapi_PSBS.jpg)
Arema FC kembali kehilangan satu pilar asingnya. Valdeci Moreira, gelandang serang asal Brasil yang menjadi pencetak gol terakhir Singo Edan di musim 2025/2026, resmi mengakhiri kebersamaannya dengan klub berlogo singa tersebut. Perpisahan itu diumumkan langsung oleh pemain berusia 30 tahun melalui akun Instagram pribadinya pada Rabu (27/5/2026), hanya beberapa hari setelah ia mencetak gol spektakuler ke gawang PSIM Yogyakarta.
Dalam unggahannya, Valdeci menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh staf, rekan setim, dan Aremania. “Tahun ini sangat gila. Menang, kalah, mencetak gol dan assist. Saya bermain baik dan buruk. Tapi yang paling penting adalah mengagungkan Arema hingga detik terakhir saya,” tulisnya. Ia juga mengakui bahwa momen membela Arema menjadi pengalaman yang tak terlupakan, meski harus mengakhiri petualangan lebih cepat dari yang diharapkan.
Gol perpisahan Valdeci tercipta pada laga melawan PSIM Yogyakarta di Stadion Kanjuruhan, Jumat (22/5/2026). Dari luar kotak penalti, ia melepaskan tembakan melengkung yang bersarang di tiang jauh—sebuah gol yang langsung disambut gemuruh Aremania. Selebrasi ikonik dengan melepas jersey nomor 10 dan memperlihatkannya kepada suporter menjadi sinyal bahwa itu adalah kontribusi terakhirnya. Banyak yang menilai momen itu sebagai salam perpisahan yang dramatis dan penuh makna.
Meski statistiknya cukup produktif, Valdeci mulai kehilangan tempat utama di putaran kedua. Kedatangan Gustavo Franca yang memiliki profil permainan serupa membuat persaingan di lini tengah Arema semakin ketat. Manajemen pun dinilai lebih memilih rotasi pemain, sehingga Valdeci lebih sering duduk di bangku cadangan. Faktor ini diduga menjadi alasan utama kedua belah pihak sepakat untuk tidak memperpanjang kontrak.
Kepergian Valdeci menambah daftar panjang pemain asing yang hengkang dari Arema. Sebelumnya, Lucas Frigeri juga telah pamit. Paulinho Moccelin, yang datang bersama Valdeci dan pelatih Marcos Santos, lebih dulu mundur pada putaran pertama karena alasan keluarga. Kini, perhatian Aremania tertuju pada masa depan sang pelatih, Marcos Santos. Hingga saat ini, manajemen belum memberikan perpanjangan kontrak, dan nasibnya masih abu-abu.
Kegagalan Arema mencapai target finis di lima besar—mereka hanya mampu menempati peringkat 9 dengan 48 poin—menjadi tekanan tersendiri. Banyak pihak memprediksi masih akan ada pemain lain yang menyusul hengkang. Situasi ini menjadi ujian bagi manajemen untuk membangun kembali skuad yang kompetitif di musim depan, terutama dalam mempertahankan inti permainan dan memenuhi ekspektasi Aremania yang selalu haus prestasi.
Dengan kepergian Valdeci, Arema kehilangan salah satu pemain dengan karakter permainan keras dan loyalitas tinggi. Pertanyaan besarnya, akankah manajemen mampu mempertahankan sosok pelatih Marcos Santos atau justru memulai babak baru dengan wajah yang segar? Keputusan dalam beberapa pekan ke depan akan menentukan arah Singo Edan di BRI Super League musim 2026/2027.



