Mural di Joo Chiat: Desain Kecil yang Mengubah Cara Pandang Terhadap Kota
Baca dalam 60 detik
- Mural Blueprint of a Shophouse di Singapura menjadi contoh bagaimana seni publik mampu memperkuat ikatan warga dengan lingkungannya.
- Para perancang kota kini bergeser dari fokus pada efisiensi ekonomi ke aspek emosional dan kesejahteraan, menjadikan kebahagiaan sebagai indikator keberhasilan.
- Intervensi berskala kecil seperti taman kilat dan ruang kreatif bawah jembatan terbukti lebih berdampak pada keseharian warga dibanding proyek infrastruktur raksasa.

Sebuah mural berjudul Blueprint of a Shophouse yang menghiasi dinding ruko di Joo Chiat Road, Singapura, bukan sekadar hiasan. Karya yang selesai pada November 2025 itu menggambarkan potret masa lalu, kini, dan masa depan kawasan tersebut—dari kopitiam yang ramai hingga aktivitas warga sehari-hari. Arsitek utama Lee Hui Lian dari OMG Atelier menyebut proyek ini sebagai cara lain berarsitektur, yaitu melalui skala dan medium yang berbeda untuk membangkitkan keingintahuan dan koneksi emosional warga terhadap tempat tinggal mereka.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran cara pandang para perancang dan pembuat kebijakan kota. Chong Keng Hua, wakil rektor NAFA sekaligus salah satu pendiri konsultan desain COLOURS, menegaskan bahwa kota tidak lagi hanya dinilai dari produktivitas atau keberlanjutan, tetapi juga dari kemampuannya membuat warganya berkembang. “Kota yang baik adalah yang membuat orang merasa aman, terhubung, terinspirasi, dan dihargai,” ujarnya. Menurutnya, emosi semacam itu merupakan indikator apakah sebuah kota benar-benar sukses.
Di tengah meningkatnya fenomena “city quitting” dan kesepian perkotaan, Anupam Yog, direktur festival Art of Citymaking, menyerukan perlunya reimaginasi radikal terhadap ruang kota. Ia mengusulkan konsep “live, move, rest” sebagai pengganti “live, work, play”, dengan menekankan pentingnya kesempatan untuk memulihkan diri setiap malam. Sementara itu, Daniel Liu dari MORROW mengingatkan bahwa tanpa perencanaan yang menghubungkan ekonomi dan tata guna lahan, migrasi justru akan menimbulkan permukiman informal dan menurunkan kualitas hidup.
Konteks Indonesia menjadi relevan ketika banyak kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung masih bergulat dengan masalah kemacetan, banjir, dan minimnya ruang publik. Pendekatan “social archi-puncture” yang diperkenalkan Chong—menempatkan intervensi kecil yang tepat di titik-titik kritis—dapat menjadi alternatif yang lebih terjangkau dan partisipatif. Contoh seperti transformasi kolong jembatan MRT Simei menjadi ruang bermain kreatif atau laboratorium seni di lingkungan perumahan menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan biaya besar.
Mural Blueprint of a Shophouse sendiri menyedot perhatian bahkan sebelum rampung. Sesi pengecatan bersama warga kelebihan peminat, dan beberapa orang datang berulang kali demi bisa ikut menempelkan cat di dinding. “Hal itu mengingatkan saya bahwa orang akan lebih peduli pada tempat jika mereka berkontribusi, meskipun hanya sedikit,” tutur Lee. Bagi Chong, masa depan kota tidak hanya terletak pada kecerdasan buatan yang mengotomatisasi pekerjaan, tetapi pada hal-hal yang membuat kita manusiawi: seni, empati, dan rasa memiliki. Seperti dikatakannya, “Kota yang paling diingat bukanlah yang memiliki gedung tertinggi, melainkan yang membuat orang merasa betah dan memiliki ikatan batin.”
Pertanyaan selanjutnya: apakah kota-kota di Indonesia siap merangkul pendekatan manusiawi ini, atau masih akan terus mengejar target fisik dan ekonomi tanpa menyentuh hati warganya?



