Fabregas Wanti-wanti Como Tampil di Liga Champions dengan Hanya 16-17 Pemain
Baca dalam 60 detik
- Cesc Fabregas mengakui Como hanya bisa mendaftarkan 16-17 pemain untuk Liga Champions karena keterbatasan akademi dan regulasi UEFA.
- Promosi cepat dari Serie B ke Liga Champions dalam dua musim membuat Como belum memiliki kedalaman skuad yang memadai.
- Como berburu pemain muda seperti Liberali, Milla, dan Kaiki, namun masalah homegrown masih membayangi.

Cesc Fabregas, pelatih Como, mengakui bahwa timnya mungkin harus berlaga di Liga Champions musim depan dengan hanya membawa 16 hingga 17 pemain. Pernyataan ini muncul akibat keterbatasan yang dihadapi klub promosi asal Italia tersebut, terutama terkait daftar pemain yang diizinkan UEFA dan minimnya kontribusi akademi lokal.
Como mencatatkan kebangkitan fenomenal: dari Serie B menembus empat besar Serie A dalam waktu dua tahun. Namun, lonjakan itu membuat mereka tertatih-tatih saat harus memenuhi persyaratan teknis kompetisi tertinggi Eropa. "Kami tidak memiliki akademi yang siap menghasilkan pemain sendiri. Akibatnya, di Liga Champions kami akan berangkat dengan skuad terbatas," ujar Fabregas dalam konferensi pers, dikutip Football-Italia.
Regulasi UEFA mewajibkan setiap klub menyertakan sejumlah pemain jebolan akademi sendiri (homegrown) dalam daftar skuad. Como musim lalu hanya memiliki satu pemain Italia, yang bahkan bermain hanya semenit di Serie A. Situasi ini menjadi ganjalan serius. Fabregas menegaskan bahwa membangun fondasi tidak bisa diselesaikan dalam dua atau tiga musim. "Ini proses yang butuh waktu," katanya.
Untuk mengatasi kekurangan, Como mulai berbelanja pemain muda. Salah satunya Mattia Liberali, gelandang timnas U-21 Italia yang diboyong dari Catanzaro. Pemain eks Milan itu disebut Fabregas sudah menunjukkan determinasi tinggi sejak latihan perdana. "Dia bisa bermain sebagai trequartista atau false nine. Dia akan dimainkan besok," tambah Fabregas. Selain itu, Como juga mendatangkan Luis Milla (gelandang berpengalaman) dan Kaiki (bek kiri agresif) untuk menggantikan Alberto Moreno dan Sergi Roberto yang hengkang.
Bagi sepak bola Indonesia, kisah Como menjadi pengingat bahwa pertumbuhan instan tanpa infrastruktur pembinaan bisa menjebak klub di level elite. Klub-klub Tanah Air yang berambisi melangkah ke level Asia (AFC Champions League) patut mencatat pentingnya sistem akademi dan ketersediaan pemain lokal. Tanpa itu, beban regulasi turnamen bisa jadi hambatan besar.
Di sisi lain, Como masih menunggu kembalinya Nico Paz, Assane Diao, dan Martin Baturina yang mendapat perpanjangan libur setelah membela Argentina di Piala Dunia 2026. Fabregas mengakui bahwa tekanan ekspektasi terhadap pemain muda tidak bisa dihindari. "Kami harus mendukung mereka," ujarnya.
Dengan skuad yang tipis, Como akan menghadapi ujian berat di Liga Champions. Pertanyaan utamanya: apakah mereka mampu bertahan di dua kompetisi sekaligus tanpa menambah lubang di skuad? Atau akankah musim depan jadi pelajaran pahit tentang pentingnya kesabaran dalam membangun tim?



