Prabowo Lantik 1.204 Pamong Praja Muda IPDN: Birokrasi Tak Boleh Berbelit
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto meresmikan pengabdian 1.204 pamong praja muda IPDN angkatan ke-33 di Jatinangor.
- Prabowo menekankan aparatur negara harus bekerja jujur, disiplin, dan berani, tidak sekadar mengincar pangkat.
- Sebelum dilantik, para praja telah diterjunkan membantu penanggulangan bencana di Aceh selama satu bulan.

Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik 1.204 pamong praja muda Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) angkatan ke-33 di Kampus IPDN Jatinangor, Sumedang, Rabu (23/8). Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan bahwa aparatur negara bukanlah jabatan prestisius melainkan jalan pengabdian yang penuh tantangan dan pengorbanan.
"Saudara telah memilih jalan hidup yang mulia, tetapi tidak ringan. Penuh rintangan, kesulitan, dan memerlukan pengorbanan jiwa dan raga," ujar Prabowo dalam rekaman video yang disiarkan Sekretariat Presiden. Kepala Negara mengingatkan bahwa kehormatan seorang pamong praja tidak diukur dari pangkat atau kedudukan, melainkan dari seberapa besar manfaat nyata yang dirasakan rakyat.
Prabowo secara khusus menyoroti tuntutan masyarakat terhadap birokrasi yang bersih, cepat, dan anti-korupsi. "Rakyat tidak butuh birokrasi berbelit-belit, tidak perlu pemimpin yang tidak bekerja sebaik-baiknya," tegasnya. Pesan ini relevan dengan keluhan publik terhadap layanan pemerintahan yang kerap lamban dan rumit. Presiden juga meminta para pamong praja untuk berani mengambil keputusan di lapangan dan menjunjung tinggi integritas.
Uniknya, sebelum resmi dilantik, seluruh angkatan ke-33 telah diterjunkan langsung ke Aceh selama satu bulan untuk membantu penanganan bencana alam. Langkah ini dinilai sebagai bentuk pendidikan lapangan yang membekali praja dengan pengalaman nyata dalam menghadapi situasi darurat dan berhadapan langsung dengan warga. Menurut pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Agus Pramono, pengalaman semacam itu dapat membentuk karakter aparatur yang responsif dan tidak kaku.
Presiden juga menginstruksikan para pamong praja untuk mempererat kerja sama dengan TNI, Polri, kejaksaan, dan elemen masyarakat di wilayah tugas masing-masing. Kolaborasi lintas sektor dianggap kunci keberhasilan program pembangunan nasional, terutama di daerah-daerah terpencil. Ke depan, ribuan pamong praja ini akan ditempatkan di berbagai dinas pemerintahan daerah dan pusat, menjadi tulang punggung birokrasi Indonesia.
Pelantikan ini menjadi momentum penting bagi regenerasi birokrasi Indonesia. Di tengah upaya pemerintah memberantas korupsi dan meningkatkan efisiensi layanan publik, kualitas pamong praja yang dilantik akan sangat menentukan. Akankah mereka mampu menjawab ekspektasi rakyat yang menginginkan perubahan nyata? Hanya waktu yang akan membuktikan.



