BI Perkuat Bauran Kebijakan Moneter: Stabilitas Rupiah Jadi Kunci Pertumbuhan Berkelanjutan
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia mengoptimalkan instrumen triple intervention dan SRBI untuk menahan gejolak nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.
- Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) diperluas guna mengalirkan pembiayaan ke sektor-sektor prioritas ekonomi.
- Digitalisasi sistem pembayaran terus dipercepat sebagai salah satu pilar pertumbuhan, seiring upaya BI menjaga momentum ekonomi nasional.

Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas ekonomi sebagai fondasi utama pertumbuhan berkelanjutan, dengan memperkuat bauran kebijakan moneter di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Langkah ini diambil untuk memastikan nilai tukar rupiah tetap terkendali, mendukung sasaran inflasi, dan mendorong aktivitas ekonomi nasional.
Dalam keterangan resminya, Direktur Eksekutif Senior Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan bahwa stabilisasi rupiah kini tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan. Instrumen lain, seperti intervensi di pasar valas dan optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), terus dipertajam. โKami meningkatkan optimalisasi bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar, sekaligus mendukung aliran modal asing,โ ujarnya.
BI juga memperkuat strategi kecukupan likuiditas pasar uang dan perbankan. Posisi SRBI disebut berada dalam tren yang lebih terkendali, dan ke depan penerbitannya akan selaras dengan kebutuhan likuiditas serta upaya menarik modal asing. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas pasar global yang dipicu oleh ketidakpastian suku bunga acuan negara maju.
Di sisi lain, bank sentral terus mengoptimalkan instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Implementasi KLM akan diperkuat guna mendorong pembiayaan ke sektor-sektor prioritas, termasuk melalui mekanisme redistribusi likuiditas yang lebih efektif. Kebijakan ini diharapkan dapat mempercepat transmisi pembiayaan ke sektor riil, sehingga mendukung ekspansi usaha dan investasi.
Tak hanya itu, digitalisasi sistem pembayaran juga menjadi fokus akselerasi. BI meyakini percepatan digitalisasi dapat mendorong efisiensi transaksi dan inklusi keuangan, yang pada gilirannya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional. Bagi pelaku usaha di Indonesia, kebijakan ini memberikan sinyal bahwa BI siap menjaga iklim investasi yang stabil dan mendukung pemulihan ekonomi jangka panjang. Pertanyaannya, sejauh mana efektivitas bauran kebijakan ini mampu menahan dampak gejolak eksternal di tahun-tahun mendatang?



